Minggu, 14 Februari 2010

Rahasia Iblis Cantik

Pendahuluan

Angin hitam seperti tinta, petir terus menggelegar.
Angin topan yang terjadi sebelum hujan besar meniup pohon-pohon dan rumput di pegunungan. Daun yang terkena tetesan air terus bersuara. Walaupun sekarang musim panas tapi di bawah Yi Shan, terasa dingin seperti musim gugur.
Terdengar suara petir, kemudian hujan lebat pun turun, air hujan yang turun sebesar biji kacang, berjatuhan dan membasahi pohon, petir mengeluarkan kilat yang terang, di seluruh tempat ini terdengar terus suara petir.
Ada sekelompok kuda berlari di bawah guyuran hujan lebat, walaupun hujan baru saja turun, tapi orang-orang yang menunggang kuda itu sudah kelihatan basah kuyup.
Dari arah depan datang 2 ekor kuda. Walaupun hujan sangat lebat, tapi orang yang berada di atas kuda itu tetap duduk dengan tegak seperti sebuah gunung batu, kuda yang ditungganginya adalah kuda bagus, kudanya berlari dengan pesat seperti anak panah, terus berlari di bawah guyuran hujan.
Penunggang kuda yang berada di sebelah kiri tampak sedang membersihkan air hujan yang mengenai wajahnya. Dia mengomel, “Dari kota Yi Shui hingga ke sini jaraknya tidak terlalu jauh, mengapa tempat ini begitu terpencil? Dalam beberapa kilometer ini tidak terlihat ada bayangan seorang pun, bahkan tempat untuk berteduh pun tidak ada.” Sambil berkata badannya yang tinggi dan besar diluruskan, dia berdiri di atas pelana kudanya. Dengan mata yang berkilat seperti petir, dia melihat ke sekelilingnya. Tiba-tiba dia sedikit membungkuk, kemudian dia menepuk-nepuk kepala kudanya, kuda kuat yang telah berjalan dalam jarak yang cukup jauh meringkik senang dan kepalanya bergoyang ke kanan. Segera kuda itu berlari dengan cepat menuju hutan lebat yang ada di depannya, kaki kuda itu menginjak tanah yang tergenang air dan membawa percikan air hujan ke atas.
Penunggang kuda yang berada sebelah kanan penunggang yang mengomel terdengar bersiul, dia pun mengejar kuda yang telah berlari terlebih dahulu. Dua ekor kuda lain yang ada di belakang, tadinya berjalan dengan santai, sekarang mereka pun segera menggerakan pecut dan mengejar dua ekor kuda yang terlebih dahulu berlalu untuk menghindari hujan lebat.
Tapi di belakang mereka tiba-tiba terdengar suara teriakan, seorang penunggang kuda yang tubuhnya lebih kecil dibanding mereka berempat, dengan cepat mendekat dan berteriak, “Kakak tertua, berhentilah! Kita jangan masuk ke dalam hutan itu!”
Tapi suara hujan terlalu keras, apalagi 2 ekor kuda yang sudah berlari terlebih dulu, cukup jauh. Teriakan cemasnya, tidak terdengar oleh orang yang berada di depan, dua ekor kuda terdepan dengan cepat masuk ke dalam hutan yang lebat itu.
Laki-laki kurus yang tadi berteriak dengan cemas, tampak terkejut, pundaknya dipukul oleh seseorang yang wajahnya penuh dengan cambang.
Dia tertawa dan berkata, “Buat apa kau berteriak? Hutan ini bukan kandang harimau, mengapa tidak boleh masuk ke sana?” Dia pun memecut kudanya dan dengan cepat mengejar dua orang penunggang kuda yang berlari terlebih dulu.
Laki-laki kurus dan kecil itu mengerutkan dahinya, terlihat wajahnya sangat khawatir, dia melihat 2 ekor kuda terakhir juga sudah masuk ke dalam hutan itu. Dia menarik nafas panjang, terpaku di bawah deraian air hujan, akhirnya dengan perlahan dia pun masuk ke dalam hutan lebat itu. Tapi tiap langkah yang dia lakukan untuk masuk ke dalam hutan itu, semakin membuat wajahnya tampak cemas dan juga ketakutan, sepertinya hutan ini menyimpan hal yang membuatnya merasa sangat takut.
Begitu memasuki hutan, air hujan tertahan oleh dedaunan yang lebat, tentu saja orang-orang yang masuk ke dalam hutan itu merasakan bahwa hujan menjadi lebih kecil di sana. Empat ekor kuda pertama sudah sampai dan mereka pun turun dari kuda, sambil memeras baju mereka yang basah, mereka bergurau. Begitu melihat laki-laki kurus dan kecil itu datang, laki-laki yang bercambang itu segera tertawa dan berkata, “Ternyata Jin Lao Si baru datang setelah 3 tahun, mengapa kau jadi penakut seperti ini? Dulu kau dan aku pernah berkelana di dunia persilatan, kapan kita pernah merasa ketakutan?”
Kemudian dia melanjutkan lagi, “Lao Si(saudara ke empat), kau harus tahu kali ini kita ke sini bermaksud untuk membuat orang-orang dunia persilatan tahu bahwa di dunia persilatan masih ada kami, Guan Wai Wu Long. (Lima Naga dari Luar Tionggoan). Kalau semua orang seperti dirimu yang begitu penakut, bendera Guan Wai Wu Long akan hancur di tanganmu.”
Orang yang disebut-sebut sebagai Lao Si adalah laki-laki yang kurus kecil. Dia tetap mengerutkan dahinya dan dia masih tampak sangat khawatir. Dia menarik nafas ingin menjawab tapi seorang laki-laki tinggi besar sudah menunjuk ke dalam hutan sambil tertawa.
“Tidak disangka, perkiraanku tidak salah masuk ke dalam hutan ini. Kalian lihat, di dalam sana ternyata ada rumah. Lao Er, Lao San, kalian urus kuda-kuda itu, aku akan ke sana dulu untuk melihat-lihat.” Dengan langkah besar dia sudah melangkah masuk ke dalam hutan.
Tiga orang laki-laki yang berbadan tegap maju dan melihat-lihat ke arah yang tadi ditunjuk oleh laki-laki itu. Di antara rimbunnya hutan terlihat ada sebuah rumah tembok.
Tapi wajah Jin Lao Si terlihat lebih tegang lagi, tangannya memegang tali kuda, kepalanya ditundukkan, air hujan yang terjatuh dari dedaunan tepat mengenai lehernya, tapi dia seperti tidak merasakan air hujan yang menetes.
Hujan masih terus turun dengan lebat, di dalam hutan itu tiba-tiba terdengar suara teriakan. Mata Jin Lao Si bergetar, tali yang dipegang dilepaskannya begitu saja, dengan langkah besar dia berlari ke dalam hutan.
Pohon-pohon di dalam sana sangat lebat daunnya, celah-celah di antara pepohonan tidak begitu besar, tapi dengan ilmu meringankan tubuhnya, Jin Lao Si yang disebut dengan Ru Yun Long (Naga Masuk Awan) dengan cepat bisa berputar di antara pepohonan lebat itu, badannya bergerak dengan tangkas dan cepat, benar-benar mengejutkan orang.
Semakin masuk kedalam hutan, pepohonan di sana pun semakin lebat, setelah dia meloncat beberapa kali dan turun, tiba-tiba di depan tampak sebuah tanah kosong. Di dalam hutan yang begitu lebat, tiba-tiba ada sebuah tanah kosong buatan dan di atas tanah itu berdiri sebuah rumah, banguan itulah yang ternyata ditakuti oleh Jin Lao Si.
Empat orang anggota Guan Wai Wu Long, masih bengong, sekarang wajah mereka berekspresi kaget. Jin Lao Si segera lari ke depan dan berkata, “Di sini bukan tempat bagus, sekarang hujan sudah mengecil, lebih baik kita tinggalkan tempat ini dan melanjutkan perjalanan.”
Tapi mata semua laki-laki tegap itu masih terus menatap rumah itu. Rumah yang ada di dalam hutan itu belum terlihat dengan jelas, ternyata semua dinding rumah itu terbuat dari besi hitam dan tinggi dinding itu 15 meter, tembok besi hitam ini menutupi seluruh rumah itu. Walaupun Guan Wai Wu Long sering berkelana di dunia persilatan tapi bangunan aneh seperti itu baru pertama kali mereka melihatnya.
Laki-laki bercambang itu memasukkan tangannya ke dalam baju, kemudian dari balik bajunya dia mengeluarkan sebuah kelereng, dengan jari tengahnya dia menyentil kelereng itu, dan kelereng itu meluncur mengenai dinding itu, terdengar suara dentingan besi yang saling beradu. Dia mengerutkan dahi dan berkata, “Apakah ini?”
Wajah Ru Yun Long Jin Lao Si segera berubah, dia melihat rumah itu masih tetap sepi tidak terdengar suara seorang pun, dia merasa agak lega, kemudian dia menarik tangan laki-laki bercambang itu dan berkata, “Kakak Kedua, mengapa kau harus menyentil dinding rumah itu? Apakah kau tidak melihat keadaan rumah itu, di dalamnya pasti ada sesuatu.”
Laki-laki bercambang itu mengerutkan dahinya dan membentak, “Apa pun yang terjadi, hari ini aku akan menggoyangkan rumah itu!” Dengan cepat dia masuk ke dalam hutan.
Ru Yun Long Jin Lao Si dengan cemas berkata, “Kakak kedua masih mempunyai sifat seperti itu. Kakak Tertua, kau harus menasehatinya, orang-orang dunia persilatan jika sudah masuk ke dalam rumah ini tidak akan bisa keluar lagi. Kakak, walaupun kau sudah lama tidak ke Zhong Yuan, tapi kau pasti pernah mendengar nama Shi Guan Yin.” (dewi Kwan In berhati batu).
Orang yang pertama-tama masuk ke dalam hutan itu adalah seorang laki-laki tinggi besar, dia adalah ketua perampok Wu Long Bang yang terkenal dengan sebutan Jin Mian Long Zhao Da Qi (Naga berwajah Emas), wajahnya berubah, dia berkata, “Zhi Guan Yin? Apakah dia adalah pewaris dari laut selatan Wu Hen Da Shi (pendeta tanpa kebencian) pernah bersumpah bahwa dia akan mengasingkan diri selama 30 tahun, Dewi Nan Hai Shi Qi (Dewi Laut Selatan)?”
Suaranya baru selesai, Lie Huo Long (Naga Api yang Keras) Lao Er sudah kembali datang menghampiri mereka sambil tertawa. Dia berkata, “Ternyata yang tinggal di sana adalah Nan Hai Xian Zi. Aku sering mendengar, katanya Shi Qi adalah si cantik yang tercantik di dunia persilatan ini. Katanya jika ada orang yang bisa membuatnya keluar dari rumah besi itu, dia tidak akan mengasingkan diri lagi dan dia pun akan menikah dengan orang yang berhasil membuatnya keluar. Ha! Ha! Tidak disangka aku begitu beruntung bisa sampai di tempat ini.”
Dia tertawa terbahak-bahak, terlihat air hujan yang jatuh tepat mengenai wajahnya, kemudian mengalir masuk ke cambangnya, lalu menetes ke dalam bajunya yang telah basah oleh air hujan itu.
Ru Yun Long Jin Lao Si tampak mengerutkan dahinya, matanya melihat tangan Lao Er yang sedang memegang seutas tali kasar. Wajahnya berubah dan dengan takut dia berkata, “Kakak Kedua, apa yang akan kau lakukan?”
Lie Huo Long mengerutkan dahinya dan membentak, “Lao Si sejak kapan kau bisa melarangku?”
Kedua kakinya berhenti sebentar, lalu dia bergerak lagi, dia meloncat ke sisi dinding besi itu. tangan kirinya memegang ujung tali yang lebih besar, tangan kanannya memegang ujung tali yang telah diikat dengan sebuah kaitan. Dia mundur 2 langkah, kemudian tangan kanannya melemparkan tali yang ada kaitannya itu. Kaitan besi tepat mengait ke dinding besi bagian atas.
Jin Mian Long menarik nafas dan berkata, “Adik Kedua, Kakak akan menemanimu.” Dia membalikkan kepalanya berkata, “Lao San, Lao Si, kalau dalam waktu 3 jam kami belum keluar, pergilah ke kota Ji Nan dan undanglah Lie Ma Jin Qiang (kuda keras tombak emas), Pak Dong Er kemari—“
Kata-katanya belum selesai, Lie Huo Long sudah tertawa dan berkata, “Tidak perlu membutuhkan waktu 3 jam, aku jamin kita bisa keluar dengan selamat.” Dia berjalan ke bawah dinding itu dan menarik-narik tali, mencoba kekuatan kait besi itu, dia tertawa dan berkata, “Kita akan keluar dengan penuh semangat dan kami akan membawa si cantik keluar dari sana.” Diiringi suara tawanya, badannya yang tinggi besar, hanya dalam sekejap sudah berada di atas tembok, walaupun tubuh Lie Huo Long tinggi besar, tapi gerakannya sangat cepat dan lincah.
Wajah Ru Yun Long pucat, begitu Jin Mian Long dan Lie Huo Long menghilang di balik tembok, dia menarik nafas panjang dan duduk di jalanan yang becek itu.
Hujan lebat dan angin datang dengan cepat, tapi pergi pun dengan cepat. Sekarang angin dan hujan sudah berhenti, sekeliling tempat itu kembali sepi, tapi suara tarikan nafas Ru Yun Long sudah bercampur dengan suara daun yang tertiup angin, suara itu terdengar sangat menyedihkan.
Tali besar yang tergantung di tembok itu mungkin karena terburu-buru oleh Jin Mian Long, sampai sekarang belum dilepaskan. Tali besar itu mengikuti arah angin bergoyang-goyang, sorot mata Ru Yun Long terus melihat tali ini.
Lao Shan Wu Long Bang adalah orang kaya di propinsi Si Hei Long Jiang, bernama Fan Jiang Long (Naga Membalik Sungai). Huang San Sheng, tiba-tiba meluruskan badannya dan berkata, “Mengapa kakak tertua belum keluar juga, Lao Wu, apakah sudah ada 3 jam?”
Duo Shou Long (Naga Bertangan Banyak) yang sejak tadi hanya berdiam diri, menggelengkan kepalanya. Sorot matanya yang tajam pun terus melihat tembok itu. Di balik tembok itu tetap sepi seperti tidak pernah ada yang masuk dan juga pernah ada yang keluar.
Mata Fan Jiang Long tampak berputar melihat Ru Yun Long yang masih duduk di bawah. Dengan cemas dia berkata, “Lao Si, orang yang masuk ke rumah ini apakah tidak pernah ada yang keluar?”
Ru Yun Long melihat tembok besi itu. dengan perlahan dia menjawab, “Banyak orang terkenal di dunia persilatan seperti Zhen Tian Jian Zhan Qi, Tie Bi Jin Dao Ye Zao Xing, dan lainnya, mereka berpikiran seperti kakak kedua tapi—tidak pernah ada yang bisa keluar hidup-hidup dari sana.” Suaranya baru selesai, tiba-tiba Duo Shou Long berteriak dengan kaget, sepasang mata yang tadinya seperti mengantuk, sekarang terlihat membesar lalu melihat ke arah tembok itu.
Duo Shou Long adalah orang yang paling tenang di Wu Long Bang. Sekarang wajahnya menjadi pucat. Fan Jiang Long juga terkejut, dia mengikuti sorot mata Duo Shou Long melihat ke arah itu. Tampak dari tembok besi hitam itu tiba-tiba muncul sebuah tangan putih, jarinya yang bagus tersemat sebuah cincin berwarna hitam.
Tangan putih itu pelan-pelan keluar dari balik tembok kemudian mencengkram tali besar itu. begitu ditarik tali yang panjang 15 meter itu tiba-tiba berputar diudara, bersamaan dengan itu dalam sekejab tangan dan tali itu menghilang di balik tembok.
Ru Yun Long meloncat, dengan suara bergetar dia berkata, “Tiga jam sudah berlalu—“
Suaranya baru habis, di balik tembok besi yang sepi itu terdengar suara teriakan dua kali.
Suara teriakan itu masuk ke telinga ketiga orang itu, darah mereka seperti membeku karena mereka sangat jelas mendengar teriakan itu, teriakan dari Jin Mian Long dan Lie Huo Long.
Fan Jiang Long dengan cepat berlari masuk ke dalam hutan, hanya dalam waktu sekejap dia mengambil sebuah tali besar. Matanya tampak merah, dengan suara serak dia berkata, “Lao Si, Lao Wu, kita juga harus masuk dan bertarung dengan siluman itu.”
Dia sudah mengeluarkan tali itu, karena kurang tenang, kaitan besi yang sudah terpasang di tembok itu terjatuh lagi.
Duo Shou Long melihat Jin Lao Si, dengan dingin dia berkata, “Kakak Keempat, lebih baik kau jangan masuk. Lupakanlah! Kita dulu pernah bersumpah sehidup semati.”
Pelan-pelan Duo Shou Long berjalan ke bawah tembok itu, dia mengambil tali besar itu dan langsung melempar tali itu ke atas tembok. Kemudian dia menarik-narik supaya lebih kuat. Dia berkata, “Kakak Ketiga, aku akan menyusul ke sana.” Dengan sekuat tenaga dia menaiki tembok itu.
Fan Jiang Long membalikkan kepalanya dan melihat wajah Lao Si, dia ingin mengatakan sesuatu tapi tiba-tiba dia mengurungkan niatnya, kemudian dia menarik nafas panjang, dengan cepat diapun menaiki tali besar itu, tubuhnya yang besar berhasil naik ke atas tembok itu kemudian mereka masuk ke dalam halaman.
Angin bertiup membuat sisa air hujan yang berada di daun-daun terus berjatuhan membasahi tubuhnya.
Hujan dan angin sudah berlalu. Ru Yun Long masih berdiri di jalan yang basah itu, karena sedih wajahnya tampak terus berubah-ubah, dengan perlahan dia berjalan ke bawah tembok itu, dia memegang tali besar itu, tapi begitu tangannya memegang tali itu, seperti terkena sengatan listrik dan dengan cepat dia menarik kembali tangannya, kemudian dengan kedua telapak tangan, dia menutupi wajahnya, karena kelemahan dirinya, membuat dia merasa sedih tapi dia tidak bisa menguasai rasa takut akan kematian.
Malam semakin dekat, di balik tembok terdengar lagi dua kali teriakan —

Di bawah sinar matahari terbenam, di dalam hutan yang lebat itu keluarlah seorang laki-laki kurus dan kecil, dengan lemah dia duduk di atas kudanya, kegagahannya yang biasa terlihat, sekarang sudah tidak tampak. Hanya dalam waktu setengah hari dia seperti sudah sangat tua, air matanya mengikuti bentuk wajahnya terus menetes, dengan lemas dia memecut kudanya dan melanjutkan perjalanan ke kota Ji Nan.
Sinar matahari terbenam menyinari tembok besi itu, tembok itu mengeluarkan sinar kelam, tapi di balik tembok begitu sepi sepertinya disana tidak pernah terjadi apa-apa.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar