Minggu, 14 Februari 2010

Langit Sembilan Lapis

BAB 1

Bertobat
Mendapat perlakuan tidak adil

Siapakah orang ini?
Sedang apa dia di sana?
Telah tiga hari penuh dia seperti cahaya di langit, bila langit mulai ada cahaya. di permukaan bumi pun pasti ada dia, begitu langit gelap bayangan dia pun akan menghilang, ketika matahari muncul di permukaan bumi lagi, dia pun sudah berdiri tegak disana, tidak makan, tidak minum, juga sedikitpun dia tidak bergerak, bila dia tidak memiliki hidung dan mata, tidak ada orang yang percaya, dia sesungguhnya orang yang masih hidup, tapi orang yang sungguh sungguh hidup, bagaimana bisa berdiri tegak kaku, dan sama sekali tidak bergerak.
Ini adalah suatu persimpangan jalan besar yang bisa menembus ke segala jurusan, dia menghadap ke persimpangan jalan itu dan berdiri disana, menjelang petang hari ketiga ketika matahari menyinari wajahnya, dijalan persimpangan itu muncullah seseorang yang mengenakan pakaian biru, gerakannya bagaikan angin, orang itu berjalan kehadapannya, melihat sebentar dari kepala sampai kaki, lalu tertawalah orang itu sambil berkata, ”Sobat apakah sudah tiga hari anda menanti disini?
”Ya “
“Mau berapa hari lagi anda berdiri disini.”
“Tujuh hari.”
“Siapa namamu.”
“Sim Cu Yi.”
Orang yang datang itu mengerutkan dahinya, berkata, ”Ternyata betul adalah anda.”
”Kalau begitu tuan tentu adalah Coh Kiam Hong.”
Coh Kiam Hong menganggukkan kepalanya kemudian sambil tersenyum berkata, ”Tidak salah, aku adalah Coh Kiam Hong.”
Mendengar ini barulah Sim Cu Yi membalikkan tubuhnya, sinar matanya menjelajahi sekeliling tempat itu, setelah memandang sebentar lalu berkata, ”Sekarang di jalan ini sudah tidak ada pejalan kaki.”
Coh Kiam Hong berkata, ”Desa yang terdekat dari sini juga lebih dari 30 li, orang yang akan melewati jalan ini seharusnya sudah tidak ada lagi.”
”Baiklah, kalau begitu sekarang kita boleh mulai bertarung.”
Coh Kiam Hong ragu-ragu sebentar, dia memanggil, ”Kakak Sim….”
Sim Cu Yi meraba bagian bawah bajunya, kemudian mengeluarkan sepasang pedang dengan kedua sisinya yang tajam, sinar berkilauan memancar keluar dari pedang itu, seperti matahari dan rembulan, sepasang pedang itu pelan-pelan saling mengeluarkan bunyi yang saling bertaut nyaring dan merdu, ketika kedua logam itu bersentuhan telah memotong perkataan Coh Kiam Hong.
“Tidak usah banyak bicara lagi, mulailah.”
Coh Kiam Hong dengan tersenyum masam, dia menggerakkan tangannya mencabut pedang yang tergantung di sisi tubuhnya, dengan berdiri melawan arah angin dia mengibaskan pedangnya, terlihat berlaksa-laksa berkas sinar surya memancar sambil mengeluarkan suara laksana raungan naga.
Sim Cu Yi berkata, ”Pedang bagus.”
”Kakak terlalu memuji.” sambil mengerak-gerakan pedang, dia mengembangkan seberkas bunga pedang, ketika gerakannya berhenti dia berkata, ”Silahkan.”
”Aku turut perintah, maaf melanggar kesopanan, begitu perkataan selesai tubuhnya bergerak maju, memainkan pedang dengan dua mata yang tajam seperti matahari dan rembulan, sepasang pedangnya telah berubah bentuk menjadi dinding lingkaran cahaya, bergulung-gulung menuju ke tempat berdirinya Coh Kiam Hong.
Coh Kiam Hong pun tidak banyak berkata lagi, menggerakan pedangnya bagai gerakan angin dan awan, segera terjadilah pertarungan yang sengit.
Begitu terjadi pertarungan, mereka sudah tidak menghiraukan keselamatan jiwanya lagi, mengerikan, sinar matahari petang pun seolah-olah ketakutan sehingga menyelinap pergi.
Setelah bertarung seratus jurus, Sim Cu Yi terlihat mulai bergerak lamban, sehingga muncul suatu titik kelemahan.
Melihat titik kelemahan itu Coh Kiam Hong segera langsung mengerakan pedangnya, menusuk ke titik kelemahan tersebut, pedangnya tepat mengarah kedada Sim Cu Yi.
Sim Cu Yi tampak tersenyum pahit berkata, ”Jurus pedang yang bagus,” begitu habis perkataannya tubuhnya sudah doyong kebelakang dan jatuh terlentang di atas tanah.
Coh Kiam Hong yang melihat tubuh Sim Cu Yi sudah terlentang di atas tanah, perasaannya tercekam rasa sedih, dia segera menarik pedangnya, ”Kakak Sim, mulai hari ini budi dan dendan kita sudah selesai, kau boleh pergi dengan tenang.” Tubuhnya segera berputar, melayang meninggalkan persimpangan jalan itu.
Sejenak setelah Coh Kiam Hong meninggalkan tempat itu, mendadak bagaikan terbang muncullah seorang tua yang berambut putih, mendarat didepan tubuh Sim Cu Yi, menghentakkan kakinya dengan berat sambil mengeluh panjang, berkata, ”Sudah terlambat,.. sudah terlambat.”
Dia mengeluh sambil membungkukkan tubuhnya, mengulurkan tangannya meraba denyut nadi Sim Cu Yi, begitu menempelkan tiga jarinya, mendadak dia menarik kembali tangannya, kemudian dia mengeluarkan sebutir pil langsung memasukan kedalam mulut Sim Cu Yi, kedua tangannya mengangkat tubuh Sim Cu Yi dengan tenang pergi melenyapkan dirinya.

0-0-0

Di suatu tempat dalam gunung yang amat jarang didatangi manusia, ada sebuah gubuk kecil, saat ini Sim Cu Yi sedang berbaring dalam gubuk ini. Dia membelalakan sepasang matanya yang bening, sedang melamun sambil memandang atap gubuk.
Memang dia sedang terlolong-lolong tapi mata dan kupingnya tetap cermat, tiba-tiba memutar kepala melihat orang tua yang menolongnya, sedang melangkah masuk ke kamarnya.
Sim Cu Yi memandang orang tua itu. Setelah berpikir sejenak lalu berkata, ”Locianpwe, pasti yang menolong Boanpwe bukan?”
Orang tua itu tersenyum sambil mengangguk lalu berkata, ”Nasibmu baik, dadamu tertusuk pedang, untung tidak mengenai paru-paru dan jantung, kalau tidak aku pun tidak bisa berbuat apa-apa lagi.”
”Boleh tahu nama Cianpwe siapa?”
”Kau panggil saja lohu, Orang tua Ie sudah cukup.”
”Yi Locianpwe.”
”Siapa namamu?”
”Boanpwe Sim Cu Yi.”
Orang tua Ie menggeleng kepala dan berkata, ”Bukan, kau bukan Sim Cu Yi, tapi lohu tidak mengerti, kenapa kau mau mengaku sebagai Sim Cu Yi? kenapa rela mati menggantikan Sim Cu Yi?”
Diam-diam dahi Sim Cu Yi palsu berkerut karena kaget, dalam hati berpikir, ”Celaka, penyamaranku sia-sia lagi!”
Dia terpikir apa-apa yang telah direncanakannya menjadi sia-sia, sorotan matanya samar-samar menyiratkan nafsu membunuh yang amat menggebu…
Tetapi nafsu membunuh hanya tampak sebentar, tidak lama kemudian dia menarik nafas panjang, setelah dipikir kembali hilanglah hasrat tadi.
Dengan tersenyum Sim Cu Yi berkata, ”Locianpwe rupanya telah banyak tahu, Boanpwe tidak berani membohong, memang Boanpwe bukan Sim Cu Yi.”
”Kalau begitu, siapa namamu?”
“Locianpwe, Boanpwe ini siapa harap jangan bertanya dulu, anggap saja Boanpwe sudah mati di bawah pedang Coh Kiam Hong!”
Dengan ketawa orang tua Ie geleng-geleng kepala berkata, ”Buktinya kau tidak mati, mengapa harus dianggap mati?”
”Tapi Boanpwe tidak bisa memberi tahu, juga tidak berani asal sebut sebuah nama lain untuk membohongi Locianpwe.”
Orang tua Ie berpikir, mungkin dia seperti dirinya yang tidak ingin menyebutkan nama aslinya, setelah mendengar perkataan ini mukanya menjadi merah. Lalu tertawa keras, ”Wah, kau pemuda yang jujur sekali! Tapi kalau memang ada yang kurang enak, lebih baik tidak usah dikatakan!”
Dengan tersenyum Sim Cu Yi berkata, ”Yang sudah berlalu biarlah berlalu, selanjutnya masih banyak kesempatan untuk mengganti nama lain. Mulai sekarang Boanpwe mau mengganti nama menjadi Ho Sim Seng, Boanpwe Ho Sim Seng mengucapkan banyak terima kasih kepada Locianpwe atas pertolongannya. Boanpwe mau permisi dulu.”
Dia turun dari ranjang lalu bersoja memberi hormat dan keluar kamar.
Tapi rupanya luka yang diderita parah sekali, baru saja berjalan dua langkah mukanya sudah terlihat kerut kesakitan, dia menggigit gigi, membusungkan dada keluar kamar.
Orang tua Ie ingin sekali menahan dirinya, tetapi melihat air mukanya yang keras dan mantap akhirnya dia menahan diri.
Melihat dia melangkah dengan sulit meninggalkan gubuknya, orang tua Ie menggeleng-gelengkan kepalanya dengan tersenyum kecut berkata, ”Orang aneh, benar-benar tidak bisa dimengerti.”
Dia jadi tidak tega membiarkan Ho Sim Seng pergi begitu saja, tidak lama tubuhnya melayang, diam-diam dia ingin mengikutinya, tetapi setelah dia mengejar kemana-mana dia tidak menemukan jejak Ho Sim Seng.
Hanya dalam waktu sekejap orang yang luka parah itu lenyap begitu saja tanpa bekas, meninggalkan sebuah kesan yang mendalam di hati orang tua Ie.

0-0-0

Waktu berlalu dengan cepat, tidak terasa setengah tahun sudah berlalu.
Suatu hari dikaki Oey San muncul seorang pemuda berpakaian rapih sedang berjalan. Setelah berhenti sebentar di bawah air terjun Kiu Liong, dia lalu memutar melewati air terjun ini, sampailah di depan sebuah rumah genting berdinding bata yang tidak terlalu besar.
Didepan rumah ini ada sebuah taman yang cukup luas, tamannya sudah lama tidak terawat dan tumbuh banyak rumput liar.
Pemuda itu adalah Ho Sim Seng, setelah melihat kesekitar tempat itu dia menghela nafas. Lalu berkata, ”Permisi, apakah ada orang di dalam?”
“Siapa itu?” muncul satu suara jawaban yang lemah dari dalam, disusul dengan batuk yang berkepanjangan.
Rasa iba muncul di roman muka Ho Sim Seng, dia menjawab, ”Boanpwe Ho Sim Seng, teman akrab putra anda Sim Cu Yi.”
Jawaban belum habis, suara batuk menjadi berhenti, tiba-tiba berubah menjadi suara yang bersemangat, ”Oh! Silakan masuk, silakan masuk!”
Ho Sim Seng melangkah masuk ke dalam rumah, terlihat seorang Lo popo berambut putih yang tampak sedang sakit keluar dari dalam kamar sambil memegang dinding ruangan.
Ho Sim Seng segera maju kedepan memapah Lo popo sambil berkata, ”Anda tentu Oey Cianpwe. Boanpwe tidak tahu, anda sedang kurang sehat.”
Sim Lo Hujin adalah dari keluarga yang bermarga Oey sehingga Ho Sim Seng memanggilnya Oey Locianpwe.
Ho Sim Seng memapah Sim Lo Hujin duduk lalu dia kembali memberi hormat lagi dan berkata, ”Boanpwe Ho Sim Seng memberi salam hormat pada Locianpwe!”
Wajah suram Sim Lo Hujin menampilkan sebuah senyuman, ”Ho Siauhiap tidak perlu sungkan-sungkan, duduklah. Aku ingin sekali mendapat kabar Cu Yi!”
Setelah mengucapkan terima kasih Ho Sim Seng duduk disamping Sim Lo Hujin sambil berkata, “Kakak Cu Yi sekarang baik-baik saja, dia bernasib baik, baru-baru ini dia mendapatkan sebuah buku rahasia ilmu silat, sekarang sedang giat berlatih, jadi sementara tidak bisa pulang, untuk mengurus Cianpwe, dia hanya mengutus Boanpwe kesini mengirim kabar, harap Locianpwe jangan kuatir…”
Perkataannya berhenti sebentar, dari pinggangnya dia mengambil sepasang pedang matahari dan rembulan yang tajam dua belah sisinya, ditaruhnya pedang itu di atas meja, ”Cu Yi Twako berpesan pada Boanpwe untuk membawa senjata yang selalu dia bawa sebagai bukti, harap Cianpwe menerimanya dengan baik.”
Mata Sim popo berputar, setelah berpikir sejenak dia berkata, ”Anakku menyerahkan sepasang pedangnya pada Ho Siauhiap, tentu mengajarkan juga ilmunya pada Siauhiap?”
Sepasang pedang matahari dan rembulan merupakan senjata yang membuat nama Sim Cu Yi menjadi tersohor. Tidak mungkin dia sembarangan menitipkan senjata itu pada orang lain, masalah ini Lo hujin juga tidak menjadi curiga.
Ho Sim Seng mengerti maksudnya, hal ini jauh-jauh hari sudah terpikir olehnya, kalau tidak untuk apa dia harus repot-repot menyerahkannya?
”Boanpwe bersyukur, kakak Cu Yi menganggap Boanpwe seperti saudaranya, Boanpwe juga sudah bisa memainkan sepasang pedangnya.
Sim Lo Hujin mengangguk, ”Siauhiap, maaf bolehkah aku melihat ilmu sepasang pedang mu.”
Ho Sim Seng lalu berdiri dengan sopan dan berkata, ”Tentu saja boleh, Boanpwe akan coba memainkannya.” Lalu dia mengambil kedua pedang yang terletak diatas meja dan memperagakan di dalam ruangan itu. Dia melakukan jurus pembukaan yang baik dan benar yang tentu saja gerakannya tampak sudah mendapat pengarahan yang cermat.
Sim Lo Hujin tersenyum mengangguk dan berkata, ”Cukup nak, tidak perlu diteruskan lagi!” sekarang panggilannya sudah dirubah.
Ho Sim Seng menyelesaikan jurus-jurusnya lalu menaruh kembali senjatanya dan berkata, ”Baru-baru ini kakak Cu Yi telah menciptakan lagi 3 jurus baru yang ajaib, dia menyuruh Boanpwe mengajarkan lagi pada Cu Sin dan membawa pulang kedua pedang ini agar bisa dipergunakan oleh Cu Sin.”
Bola matanya berputar selanjutnya dia bertanya, ”Kemanakah Cu Sin?” beberapa katanya sudah menjelaskan semua alasan dikembalikannya sepasang pedang matahari dan rembulan.
Kecurigaan dalam hati Sim Lo Hujin sudah hilang sama sekali, dengan suara datar berkata, ”Cu Sin sedang ke vihara Leng Ku berguru pada Chu In Taysu yang menjabat sebagai ketua Leng Ku.”
Dia berhenti sebentar lalu berkata lagi, ”Anak! Kita tidak perlu sungkan-sungkan lagi. Kau jangan panggil Sim Locianpwe lagi padaku, panggil bibi saja.”
Ho Sim Seng segera memanggil, ”Bibi!”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar