Minggu, 14 Februari 2010

Eng Djiauw Ong

Judul asli : Yingzhua wang

Pengarang : Zheng Zhengyin

Penerbit : Keng Po, 1957

Penerjemah : Oey Kim Tiang (O.K.T., 1904-1995)

Jilid : 15 jilid tamat (@ 80 halaman).



Pada permulaan pemerintahan Kaisar Tong Tie dari kerajaan Tjeng, disebut kalau propinsi Siamsay sedang terancam oleh pemberontakan kaum Rambut Panjang yang majukan dua puluh laksa jiwa serdadunya di tiga jurusan. Tetapi Jenderal To Liong Oh telah hajar pemberontak di kota Keng Tjie Kwan hingga kawanan itu jadi terpencar dan mengacau di sana-sini. Membaca beberapa halaman permulaan dari cerita ini, kebanyakan akan menduga kalau ini bukanlah boehiap siauwswat (novel cersil) tetapi hanya sekedar yangie siauwswat (novel sejarah) yang berkisar seputar pertentangan antara kaum pemberontak dan kerajaan plus dengan segala intriknya, perkara korupsi di kerajaan, atau kisah cinta antara tokoh utamanya yang (biasanya) juga adalah kepala dari kaum pemberontak yang ingin merebut, atau sedikitnya membersihkan kerajaan dari para politikus bejat atawa koruptor.



Tapi tidak demikian dengan Eng Djiauw Ong ini……………!



Cerita dibuka dengan mengisahkan Hoa In Hong yang sedang bertugas untuk mengantar surat rahasia yang dikirim oleh gurunya, Ong To Liong, yang bergelar Eng Djiauw Ong (Ong si Kuku Garuda atau dapat juga diartikan Raja Cakar Garuda) yang ialah juga tjiangboendjin Hoay Yang Pay. Surat rahasia tersebut ditujukan kepada Yo Boen Han yang merupakan kawan kekal dari In Hong punya soehoe. Yoe Boen Han adalah hartawan di Kota Hoa-im, mantan pembesar negara yang terkenal sebagai orang jujur dan bersih. Ong si Kuku Garuda ini sepuluh tahun silam pernah mendapatkan pertolongan dari Yoe Boen Han sehingga akhirnya mereka kemudian mengikat diri sebagai kawan kekal.

In Hong, akibat teledor di dalam perjalanan harus kehilangan surat penting itu. Secara tidak sengaja surat itu ditemukan oleh seorang penduduk kota Tong Kwan. Selesai membaca dan dikira kalau isi surat itu ada sangkut-pautnya dengan kaum pemberontak, maka lantas surat itu kemudian dibawa dan diserahkan kepada pembesar militer setempat. Di dalamnya surat itu Eng Djiauw Ong ada memberitahukan agar Yoe Boe Han sekeluarga selekasnya pergi dari kota Hoa-im dikarenakan adanya rencana dari kaum pemberontak untuk menyerbu dan merampas salah satu kota di dekatnya Yoe Boe Han tinggal. Keluarga Yoe dianjurkan pindah ke kediamannya Eng Djiauw Ong untuk sementara waktu.

Surat ini jelas mencurigakan lantaran datang dari kota Lim-hoay, yang mana kota itu merupakan sarang dari bandit pemberontak terkenal bernama Thio Hok Leng. Jelas dalam surat itu terdapat informasi kalau gerombolan bandit itu berencana menyerbu Kwan-tiong. Maka dari mana si Eng Djiauw Ong bisa tahu rencana rahasia dari kaum pemberontak kalau dia sendiri bukan bagian dari pemberontak? Tak heran kemudian apabila In Hong dan Yoe Boe Han sekeluarga ditangkap oleh para tentara negeri dan dicurigai sebagai orang yang ada hubungannya dengan kawanan bandit Thio Hok Leng dari Lim-hoay, berdasarkan penafsiran isi surat yang tercecer itu.

Eng Djiauw Ong yang mengetahui anak muridnya tertangkap tidak tinggal diam, apalagi dia merasa bersalah lantaran gara-gara suratnya maka keluarga Yoe Boe Han harus ditangkap dan disiksa. Ikut ditangkap dalam rombongan keluarga Yoe ini adalah putrinya yang bernama Yoe Hong Bwee, yang ternyata anak murid dari Tjoe In Am-tjoe dari See Gak Pay.

Di dalam usahanya membebaskan Keluarga Yoe dan muridnya dari tawanan, Eng Djiauw Ong bertemu dengan Tjoe In Am-tjoe sehingga akhirnya mereka bekerja sama dalam usaha pembebasan anak muridnya.

Ketika Eng Djiauw Ong berusaha menggunakan jalan diplomasi dalam membebaskan keluarga Yoe dan muridnya dari tawanan, tak terduga In Hong dan Hong Bwee sudah terlebih dahulu ada yang membebaskan. Akan tetapi alih-alihnya In Hong dan Hong Bwee hanya berpindah tangan penculik. Ibaratnya seperti keluar mulut harimau masuk mulut buaya.

Sadar bahwa muridnya dalam bahaya, tanpa membuang waktu Eng Djiauw Ong dan Tjoe In lantas uber para penculik murid mereka, hingga pada suatu bentrokan, para penculik In Hong dan Hong Bwee meninggalkan karcis nama dengan pesan agar Eng Djiauw Ong dan Tjoe In menjemput kedua murid kesayangannya di sebuah tempat bernama Tjap-djie Lian-hoan-ouw, yang belakangan kemudian diketahui sebagai markas besarnya gerombolan Hong Bwee Pang. Inilah jelas sekali kalau orang orang Hong Bwee Pang sedang cari setori terhadap mereka berdua! Dan intrik inilah yang berkembang menjadi inti cerita yang sangat sederhana... perseteruan Hoay Yang Pay & See Gak Pay contra Hong Bwee Pang.

Hong Bwee Pang saat itu merupakan perkumpulan atau pang yang sedang membangun kekuatan besar-besaran. Walaupun ketuanya dianggap orang gagah, tetapi banyak rekrutan anak buahnya yang dari kalangan penjahat, yang melakukan usaha-usaha yang diharamkan pemerintah, seperti mengusahakan garam.

Setelah peristiwa penculikan itu, cerita kemudian hanya melulu mengenai usaha seru dari Eng Djiauw Ong dan Tjoe In Am-tjoe dalam menggalang kekuatan untuk menyerbu Hong Bwee Pang. Berbagai cara dan usaha sabotase serta penggangguan dilancarkan oleh kawanan Hong Bwee Pang untuk menghancurkan rombongan Eng Djiauw Ong dalam sepanjang perjalanannya mencapai Tjap-djie Lian-hoan-ouw. Dalam perjalanannya menuju sarang Hong Bwee Pang ini, Eng Djiauw Ong mendapat bantuan dari anak murid Hoay Yang Pay, See Gak Pay, serta golongan tua dari perguruan serta para sahabat kang-ouw yang memang tidak bersimpati pada gerakan Hong Bwee Pang.

Di dalam markas Hong Bwee Pang sendiri, sadar kalau sedang mendapat ancaman serbuan dari seantero rimba hijau yang dipimpin oleh Eng Djiauw Ong, mereka semakin merapatkan barisan, akan tetapi selain dari luar selalu ada ancaman dari dalam, mereka juga dihadapkan dalam situasi untuk memadamkan kobaran api dari dalam, yaitu adanya kawan mereka sendiri yang melakukan pembangkangan dan mencoba melakukan pemberontakan. Cerita berjalan terus sampai kemudian akhirnya tiba battle royale, yang mengharuskan jago-jago dari kedua kelompok ini bertempur satu lawan satu dengan aturan rimba hijau untuk menuntaskan dendam lama: memutuskan menang kalah, benar atau salah melalui pie-boe.



ooooooooooOOoooooooooo



Para pembaca cersil yang mengharapkan cerita silat dengan jurus-jurus fantastis, para enghiong tampan dengan siotjia paras cantik, pasti akan kecewa dengan cerita ini. Tidak ada kisah asmara dan segala peristiwa kebetulan yang membuat pahlawannya menjadi sakti mandraguna dalam cerita ini. Masing-masing tokoh yang tergabung dengan rombongannya Eng Djiauw Ong mempunyai kisah petualangannya sendiri sendiri untuk kemudian cerita mereka itu kemudian terangkai menjadi satu kesatuan dalam garis besar cerita dengan pengakhiran yang menegangkan. Selepas jilid 6, cerita mengalir dengan tempo naik dikarenakan semakin rombongan Eng Djiauw Ong mendekati markas Hong Bwee Pang, makin banyak jebakan yang dipasang serta intrik-intrik yang diceritakan secara rinci dan hidup. Belum lagi kemunculan banyak tokoh aneh golongan tua baik di pihak musuh maupun di pihak Eng Djiauw Ong yang turun gunung untuk membantu masing masing kelompok dalam mencapai tujuannya, dengan gerakan-gerakan jurus silat yang diceritakan sedemikian detil, sampai pembaca sendiri terkadang menjadi bingung karena deskripsi yang demikian lengkap.



ooooooooooOOoooooooooo



Jadi, apakah Eng Djiauw Ong ini layak masuk dalam peringkat atas polling? Tidak jadi masalah ya atau tidak. Masing-masing pengarang cersil memiliki kekhasannya sendiri-sendiri, demikian juga dengan selera setiap pembaca yang boleh berbeda. Jika tjersil-fans hard-core (demikian ujarannya), menyukai Eng Djiauw Ong, maka dia tentu juga tidak menolak untuk disuguhi Hay Tong Kok atau Hiat Tjiat Kee Djiauw Gay dari pengarang yang sama. Satu Tauwtoo ada menempelkan 4 bintang untuk cerita ini alias sama dengan “highly recommended” untuk Eng Djiauw Ong, dengan menambah embel-embel label sebagai berikut: “Eng Djiauw Ong, ****, highly-recommended, sangat direkomendasikan untuk mereka yang telah berhasil membuka jalan darah tok dan djim, membaca buku ini untuk mereka dapat memberikan sensasi kenyamanan di seluruh aliran jalan darah dan sangat baik untuk kesehatan”.

Sebilah Pedang Mustika

Judul asli : Huanjian Qiqing Lu

Pengarang : Liang Yusheng (Nio Ie Seng, 1922- )

Penerbit : PT Wastu Lanas Grafika ― Surabaya

Penerjemah : Oey Kim Tiang (O.K.T., 1904-1995)

Cetak terbatas : 2004 ― 800 eksemplar

Jilid : 1 (satu) buku



Djin wie tjay soe, niauw wie sit bong

Manusia mati karna harta, burung mati karna makan.



ooo000ooo



Bagi para peminat dan pembaca cersil (cerita silat) , mereka akan menyebut kisah trilogi Pendekar Rajawali identik dengan nama Kim Yong (Jin Yong/Chin Yung), juga tidak akan asing apabila disebutkan nama Ong Touw Louw (Wang Dulu), yang menghanyutkan dengan cerita pentalogi kisah petualangan pendekar Lie Bouw Pek, maka ketika disebutkan nama Nio Ie Sheng (Liang YuSheng), para pecandu cerita silat akan serentak menunjuk saga Thian San , sebagai masterpiece dari pengarang cersil yang satu ini, Saga serial Thian-San disebut-sebut oleh para pecandu cersil sebagai serial terpanjang dalam kisah cerita silat (terjemahan) yang pernah ada.



Hoan Kiam Kie Tjeng (HKKT) yang akan kita bahas ini , adalah satu dari rangkaian cerita dan sekaligus merupakan kisah pembuka dari saga Thian-San karangan Liang YuSheng, di tanah air oleh Oey Kim Tiang―atau lebih dikenal dengan O.K.T.― kisah HKKT diterjemahkan dengan judul Sebilah Pedang Mustika, pernah diterbitkan oleh PT. Mekar Djaya pada tahun 1959 terdiri dari tiga jilid. Rasanya tidak perlu lagi diceritakan reputasi OKT dalam “menceritakan kembali” berbagai cerita silat yang diterjemahkannya. Sastrawan dan ahli bahasa Ajip Rosidi menulis, siapapun pengarangnya, apapun ceritanya, apabila digarap oleh OKT, maka akan menjadi cerita khas dengan gaya OKT. Tapi dalam tulisan ini penulis tidak bermaksud membahas mengenai kehebatan OKT dalam menerjemahkan, tapi lebih kepada membahas isi cerita sebagai pengantar bagi mereka para peminat cerita silat yang belum pernah membaca atau pernah membaca tapi lupa akan isi dari cerita HKKT ini.



Untuk kegembiraannya kalangan pembaca cerita silat tanah air, novel silat terkenal ini telah diterbitkan ulang seperti apa adanya ketika pertama kali diterbitkan 46 tahun yang lalu, hanya sedikit perbedaan untuk ejaan, untuk terbitan tahun 2004/2005, penulisan dan ejaan telah disesuaikan dengan ejaan Bahasa Indonesia yang disempurnakan, kecuali untuk penulisan nama-nama dan istilah-istilah yang khas cerita silat, dalam novel ini istilah-istilah tersebut masih tetap dipertahankan dengan penulisan ejaan yang digunakan pada cetakan pertama 46 tahun yang lalu.



Mengingat sekarang buku atau novel silat terjemahan macam ini sudah termasuk barang langka dan susah ditemukan di toko buku biasa, maka tak heran kalau penerbitan kembali HKKT di tahun 2004/2005 ini disambut dengan rasa gembira, walaupun masih ditujukan untuk kalangan terbatas penggemar cerita silat, tapi sudah cukup sebagai obat rindu dan nostalgia bagi mereka para penggemar cerita silat di Indonesia.



ooo000ooo



HKKT untuk pertama kalinya ditulis oleh Liang Yusheng sebagai cerita silat bersambung di sebuah koran terbitan Hongkong bernama Xianggang Shangbao (Hiangkang Siangpoo), medio November tahun 1959, sebenarnya Liang YuSheng ketika menulis HKKT ini, juga sedang menulis cerita silat bersambung lainnya di koran yang berbeda masih terbitan Hongkong, berjudul Peng Cong Hiap Eng (PCHE), dan muncul duluan di koran itu sebelum HKKT. Hal yang menjadi unik dalam proses penulisannya , adalah bahwa HKKT ditulis oleh Liang YuSheng sebagai prequel dari PCHE yang terbit duluan tapi ditulis secara hampir bersamaan !, artinya ketika PCHE masih belum tamat, Liang YuSheng sudah mulai menulis sebuah cerita lagi, yaitu HKKT ini, yang bercerita mengenai kejadian sebelumnya dari PCHE. Dari proses penulisannya saja , HKKT sudah menjadi cukup unik, lantaran tentunya dibutuhkan ketelitian tinggi dan daya ingat yang kuat bagi Liang YuSheng untuk menulis dua cerita secara bersamaan dimana yang satu merupakan prequel dari cerita yang satunya lagi, tentu saja hal tersebut adalah suatu keharusan agar tidak terjadi ketidaksesuaian sejarah , periodesasi, nama tokoh, dan lain lainnya antara prequel dan sequel, sehingga pembaca tidak akan bingung selagi membacanya.



oo000ooo



Dalam HKKT ini, cerita mengambil latar belakang setelah pertempuran di Sungai Tiangkang yang legendaris, di mana pasukan Thio Soe Seng akhirnya dapat dipukul dan dikalahkan oleh pasukan dari Tjoe Goan Tjiang. Thio Soe Seng yang kalah perang akhirnya gugur dan mengakhiri hidupnya di Sungai Tiangkang. Adapun setelah peristiwa itu Tjoe Goan Tjiang semakin kuat dan luas pengaruhnya hingga berhasil menggulingkan pemerintahan saat itu untuk kemudian mendirikan dinasti baru yang dikenal dengan dinasti atau kekaisaran Beng, dan menjadi kaisar pertama dari dinasti Beng yang didirikannya itu.



Latar kejadian pertempuran Sungai Tiang Kang dan perseteruan antara Thio Soe Seng dengan Tjoe Goan Tjiang inilah yang menjadi benang merah dari HKKT, peristiwa itu bahkan masih terus menjadi benang merah bagi cerita Peng Cong Hiap Eng, yang merupakan sequel dari HKKT.



Selain Thio Soe Seng yang kena dikalahkan dan gugur di Sungai Tiang Kang, ikut gugur juga beberapa pengawal setianya, di antaranya Peng Hweeshio yang pernah diangkat guru oleh Thio Soe Seng dan Tjoe Goan Tjiang berdua sewaktu mudanya. Walaupun demikian, di antara yang gugur tentu ada yang selamat, ialah putra mahkota dari Thio Soe Seng, yang berhasil diselamatkan oleh salah satu pengawalnya bernama Tjio Thian Tok dan dibawa lari keluar perbatasan, sampai seterusnya menuntut penghidupan di negeri Watzu sambil berencana menyusun kekuatan untuk kembali ke Tionggoan. Selain Tjio Thian Tok, yang berhasil lolos dari pertempuran Sungai Tiang Kang , masih ada seorang lagi bernama, In Boe Yang, lelakon In Boe Yang inilah yang kemudian menjadi pemegang kunci cerita dari keseluruhan cerita HKKT.



Meskipun berhasil lolos dari pertempuran maut sungai Tiangkang, Boe Yang harus rela kehilangan istri setia yang gugur dalam pertempuran tersebut. Istrinya, Tan Soat Bwee, adalah juga putri tunggal dari Tan Teng Hong, pendekar kesohor pada jaman itu yang setingkat dengan Peng Hweesio. Di jaman itu, Peng Hweesio, Tan Teng Hong dan Bouw Tok It (ketua Boe Tong Pay) mereka bertiga sudah terkenal sebagai tiga orang tokoh cabang atas dunia persilatan.



Mengiringi nasib baik Boe Yang yang berhasil lolos dari pertempuran maut sungai Tiangkang, banyak orang menduga bahwa Boe Yang adalah seorang penghianat, mereka percaya kalau dia berhasil lolos dari Sungai Tiang Kang lantaran secara licik telah menjual junjungannya, Thio Soe Seng ke tangan musuh untuk imbalan keselamatan jiwanya, maka tak heran apabila setelah lolos dari peristiwa Sungai Tiang Kang itu, ia lantas lari ke Boe Tong Pay, otaknya yang cerdas menuntun dirinya untuk mencari perlindungan dari Bouw Tok It yang berilmu tinggi. Dengan keahliannya membawa diri, Boe Yang berhasil mendapatkan kepercayaan Bouw Tok It, untuk kemudian menetap di Bu Tong, tidak cukup sampau disitu , Boe Yang malah kemudian berhasil memikat dan menikahi Bouw Poo Tjoe, puteri satu-satunya dari Bouw Tok It. Otomatis dengan pernikahan itu, jadilah ia menantu dari ketua Bu Tong Pay yang paling dihormati kalangan dunia persilatan saat itu.



In Boe Yang ini memangnya seorang yang temaha (sekaker, serakah), mengetahui kalau ayah mertuanya mempunyai kitab ilmu pedang nomor satu di dunia, otak liciknya mulai bekerja, dengan memperalat kedudukan istrinya, berbareng mereka berhasil mencuri kitab pusaka itu dan lari ke Gunung Holan untuk menyembunyikan diri. Dalam cerita selanjutnya, Bouw Poo Tjoe kemudian melahirkan seorang putri sebagai buah perkawinannya dengan In Boe Yang, tapi kemudian seumur hidup tak habis-habis ia menyesali kebodohannya telah berbuat durhaka pada ayahnya.



ooo000ooo



Tak terasa beberapa puluh tahun telah lewat, suatu hari muncul seorang pemuda cakap bernama Tan Hian Kie yang kelihatan sedang mendaki Gunung Holan, ia diceritakan sedang mencari kediaman Keluarga In. Tidak jelas asal-usul pemuda ini, tapi jelas datang kesitu untuk membunuh In Boe Yang. Dalam pendakiannya di Gunung Holan ini, tanpa diharapkannya, Tan Hian Kie musti kebentrok dengan seorang pemuda lainnya yang bernama Siangkoan Thian Ya, bentrok yang bermula dari salah paham sepele soal asmara dan melibatkan pihak ketiga, seorang gadis cantik bernama Siauw Oen Lan.



Thian Ya terang-terangan mencintai Oen Lan, sedang Oen Lan sendiri kena dipikat hatinya oleh Hian Kie, sehingga terjadilah cinta segi tiga, sedangkan Hian Kie sendiri sebenarnya tidak menaruh cinta kepada Oen Lan, urusan sepele tapi menjadi rumit karena Thian Ya yang tinggi hati tidak mau menerima kenyataan kalau Hian Kie malah menampik cinta Oen Lan, padahal gadis itu sebelumnyai dengan tegas telah mendepak cintanya,....sampai kemudian terjadilah bentrokan ! , usai bentrokan, Hian Kie cedera, tak kuasa meneruskan perjalanan mendaki, ia kemudian kesasar, pingsan dan jatuh ke sebuah lembah di Gunung itu

.

Siuman, Hian Kie menyadari kalau dia sudah berada di kediaman keluarga In, malah tanpa diharapkan selama pingsan ia telah dirawat secara telaten oleh In So So, putri dari orang yang sedang diincarnya untuk dibunuh !, dalam masa pemulihan, perlahan lahan kedua insan ini berhubungan makin intim, sampai akhirnya dapat ditebak, Hian Kie dan So So kemudian saling jatuh cinta walaupun sadar bahwa di balik percintaan mereka itu terdapat dendam turunan dari leluhur mereka masing-masing.



Selanjutnya cerita mengalir deras, walaupun hanya terjadi di lokasi seputaran Gunung Holan saja.



Ternyata banyak rahasia disimpan oleh lelakon kita , In Boe Yang ini. Ia mempunyai sebuah gambar lukisan panorama Souwtjioe, yang ternyata merupakan peta harta karun peninggalan Thio Soe Seng. Selain itu, kitab ilmu pedang curian dari ayah mertuanya ternyata memiliki sejarah panjang terutama yang berhubungan dengan ahli waris seharusnya, dengan semakin berjalannya cerita, terungkap kalau kitab ilmu pedang itu berhubungan erat sekali dengan dirinya Hian Kie. Lika-liku dan perjalanan panjang kitab ilmu pedang tersebut hingga sampai akhirnya jatuh ke tangan Bouw Tok It, diceritakan dengan gaya flash back oleh salah satu saksi hidup yang juga kebetulan adalah salah satu tokoh kunci pemegang rahasia dari segala kejadian yang terjadi di HKKT ini.



- Siapa sebetulnya Tan Hian Kie? Ada hubungan apa antara dia dengan Thio Soe Seng?, Siapa pula Siangkoan Thian Ya dan Siauw Oen Lan ?

- Bagaimana akhir kisah cinta antara Hian Kie dan So So?, dan rahasia apa saja yang dipendam oleh In Boe Yang? Apakah benar Boe Yang seorang penghianat?, ada kejadian apa dibalik pertempuran Sungai Tiang Kang?

- Rahasia apa sebenarnya yang tersimpan di balik lukisan pemandangan yang dimiliki Boe Yang?



Cerita kemudian diakhiri klimaks. Seluruh rahasia di balik pertempuran Sungai Tiang Kang, misteri dari kitab dan pedang pusaka, serta asal-usul Hian Kie, Siangkoan Thian Ya, Siauw Oen Lan dan lain-lainnya diungkapkan secara perlahan-lahan, sampai kemudian akhirnya pembaca menjadi jelas .



Semua tokoh yang muncul di HKKT mempunyai keterkaitan satu sama lain, setiap tokoh tidak begitu saja dimunculkan hanya untuk meramaikan suasana tanpa peran, tapi setiap tokoh mempunyai peran dengan membawa sejarah dan rahasia dirinya masing masing sekaligus menjadi kunci akan rahasia dari tokoh cerita lainnya, terus menerus tokoh baru bermunculan dengan rahasianya masing masing sambil membawa kunci rahasia orang lain...., bahkan sampai cerita sudah hampir mencapai klimaks dan mendekati tamat-pun, Liang YuSheng masih saja menampilkan satu tokoh kunci lainnya di pamungkas cerita, yang berperan sebagai pengantar untuk menutup cerita.



Sebagian pembaca mungkin akan merasa miris, kesal atau malah menangis, minimal menitikan air mata sambil menghela napas panjang ketika membaca akhir cerita HKKT ini, mereka yang menyukai “happy ending” akan terpaksa terus membaca sampai lembar akhir sembari menyimpan harapan agar plot cerita berbelok seperti apa yang diharapkan, tapi diluar itu tidak sedikit juga para pembaca cersil yang justru memuji cara Liang Yusheng mengakhiri cerita ini.



ooo000ooo



Walaupun masih terdapat beberapa kesalahan kecil dalam proses editing-nya, penerbitan HKKT ini dapat dibilang sebagai pembuka jalan bagi kembalinya genre cerita silat terjemahan di tanah air, baik dalam bentuk penerbitan ulang maupun penerbitan karya terjemahan baru, sebelumnya dari Bandung, seorang peminat cerita silat yang sudah terkenal di kalangan masyarakat cersil Indonesia sudah pula menerbitkan satu cersil baru walau masih ditujukan untuk kalangan terbatas peminat cerita silat tanah air.



Sementara itu, kabar bahwa Masyarakat Tjersil Indonesia bekerjasama dengan pihak penerbit yang sama telah menerbitkan cetak ulang Peng Cong Hiap Eng ( Dua Musuh Turunan... – masih hasil terjemahan dari OKT ) yang merupakan lanjutan dari HKKT ini, adalah kabar yang sudah ditunggu tunggu dan menggembirakan hatinya para peminat cerita silat di tanah air. Para pembaca baru tidak akan perlu mendelu (jengkel) hatinya menunggu terlalu lama untuk mengikuti terus lanjutan cerita saga Thian San yang terkenal ini, sedang bagi mereka para pembaca cerita silat yang sudah membaca kedua judul ini , minimal akan terpuaskan rindu nostalgianya.

Raja Naga Tujuh Bintang

Judul asli : Qi Xing Long Wang

Pengarang : Gu Long

Terbitan : 1978 (1st), reprint 1998

Penerjemah : Ynt

Cetak terbatas : See Yan Tjin Djin, Bandung, 2004

Jilid : 2 buku

Tokoh :

Sun Ji Cheng - Hartawan dari Kota Ji Nan

Yuan Bao - Pengemis kecil yang misterius.

Zheng Nan Yuan - Pemilik Rumah Makan Da San Yuan

Tian Ji Zi - Tuan muda dari Partai Panji Bunga, putra Tian Yong Hua yang dikenal cerdas

Tian Yong Hua – Ketua Partai Panji Bunga

Xiao Jun - Kepala bagian penegakan hukum Partai Pengemis

Li Jiang Jun Pencuri kondang yang memiliki julukan San Xiao Jing Hun atau Tertawa Tiga Kali Mengagetkan Arwah

Guo Di Mie & Gao Tian Jue Pasangan suami-istri yang mendirikan organisasi rahasia Tian Jue Die Mie yang didedikasikan untuk menangkap pencuri dan penjahat.

Boss Besar Tang - Pemilik rumah judi Ru Yi Du Fang



Langit menurunkan bintang keberuntungan,

Mengubah besi menjadi emas

(Raja Naga Tujuh Bintang, hal. 182)



Tanggal 15 bulan 4, tujuh belas tahun yang lalu, telah terjadi suatu peristiwa besar yang menggegerkan seantero dunia persilatan. Pada hari itu, Li Jiang Jun, seorang pencuri terkenal yang selama petualangannya bahkan telah berhasil menggerayangi istana, dikeroyok oleh pasangan pendekar dari organisasi rahasia Tian Jue Die Mie, yaitu suami istri Guo Di Mie dan Gao Tian Jue. Tidak banyak diketahui oleh dunia luar, sebenarnya Li Jiang Jun dalam peristiwa 17 tahun yang lalu tersebut kena dikepung oleh delapan orang tetua dunia persilatan, yang kekuatannya adalah bahkan setara dengan 800 orang. Sudah barang tentu kemungkinan bagi Li Jiang Jun untuk meloloskan diri dari kepungan tersebut adalah sangat kecil, atau boleh dikatakan tidak ada. Akan tetapi, anehnya peristiwa tujuh belas tahun yang lalu tersebut berakhir begitu saja dan tidak jelas kabar beritanya. Bahkan para pelaku yang terlibat sepertinya bungkam jika diungkit-ungkit mengenai hal itu. Di luar mereka, tak seorang pun yang tahu apa yang sebenarnya telah terjadi, hanya saja kemudian setelah peristiwa tersebut di dunia persilatan tidak ada lagi terdapat seorang yang bernama Li Jiang Jun, alias si maling Tertawa Tiga Kali Mengagetkan Arwah, dia bagai lenyap ditelan bumi. Lenyapnya Li Jiang Jun dari dunia persilatan tersebut menjadi bahan pertanyaannya kaum persilatan saat itu baik dari golongan hitam maupun putih, karena mereka semua mafhum bahwa sebagai seorangnya yang berprofesi maling dengan reputasi tak pernah gagal, Li Jiang Jun diduga masih menyimpan dan menyembunyikan harta hasil rampokannya selama bertahun tahun yang sungguh tidak ternilai pada saat itu. Dengan menghilangnya Li Jiang Jun maka rahasia harta tersebut juga ikut menghilang dari dunia persilatan.



Rahasia peristiwa pada tujuh belas tahun yang lalu tersebut bahkan sedikit demi sedikit sudah mulai terlupakan dan bahkan sudah hanya menjadi dongeng saja bagi para insan dunia persilatan kala itu, sampai akhirnya tiba saat tujuh belas tahun kemudian setelah peristiwa tersebut.............................



Cerita Qi Xing Long Wang ini diawali tepat tujuh belas tahun kemudian setelah peristiwa pengeroyokan atas dirinya Li Jiang Jun. Kota Ji Nan yang selama ini tenang tanpa adanya kejadian yang berarti, tiba tiba saja mendadak digemparkan oleh ditemukannya mayat dari Sun Ji Cheng, seorang hartawan kaya-raya di kota tersebut, ikut ditemukan bersebelahan dengan mayat Sun Ji Cheng adalah Liu Jiu Niang yang menjabat sebagai kepala rumah tangganya, juga ikut tewas, Qiu Bu Dao, kepala pemgawalnya, di ruang rahasia di rumah pribadi dari hartawan tersebut..



Peristiwa tewasnya ke tiga orang tersebut kemudian berlanjut dengan beberapa kejadian beruntun yang serba mengejutkan di kota Ji Nan. Lima jagoan terpilih bawahan Qiu Bu Dao tidak lama kemudian terbunuh secara misterius pula, kejadian tersebut semakin berbuntut panjang dengan turut campur tangannya beberapa partai persilatan yang melibatkan diri dalam penyelidikan peristiwa tersebut, diantaranya ; Partai Panji Bunga, Partai Cakar Elang dan Partai Pengemis. Masing masing partai tersebut mengirimkan beberapa anggota terbaiknya ke kota Ji Nan demi untuk menyelidiki kasus tersebut dengan membawa motif dan agendanya sendiri sendiri.



Tak lama setelah kejadian pembunuhan di kota Ji Nan tersebut, tiba tiba di dunia persilatan muncul seorang pedagang kaya yang misterius dan ber-ilmu tinggi yang bernama Wu Tao, serta juga munculnya seorang pengemis cilik misterius bernama Yuan Bao yang ke mana-mana membawa mainan berbentuk bintang. Siapakah mereka ini? Siapa sebenarnya yang membunuh Sun Ji Cheng sekaligus dengan pengawalnya bertiga dalam waktu yang bersamaan dan mengapa mereka di bunuh? Apakah kaitan beberapa tokoh misterius ini, partai-partai besar dan kematian demi kematian yang terjadi serta hubungannya dengan kejadian tujuh belas tahun yang lalu itu?



Cerita yang diawali dengan peristiwa pembunuhan ini kemudian dengan cepat bergulir menjadi bola benang kusut dengan berbagai peristiwa dan pemunculan tokoh tokoh baru yang misterius yang seakan akan tidak ada hubungannya sama sekali dengan peristiwa di awal cerita, bola benang cerita kemudian menggelinding semakin kusut untuk kemudian sedikit demi sedikit bola benang kusut tersebut terurai dan mencapai klimaksnya penjelasan di akhir cerita.



Cerita silat (cersil) Raja Naga Tujuh Bintang adalah salah satu cersil terjemahan yang paling baru, hasil usaha See Yan Tjin Djin, yang merupakan juga anggota senior dari milis tjersil. Gaya pembukaan cerita di atas memang sudah menjadi ciri khasnya Gu Long. Pengarang yang nama aslinya Xiong Yaohua ini terkenal dengan gaya bertuturnya yang khas, berupa kisah cinta yang dibalut dengan thriller jurus-jurus tingkat tinggi, jalinan suspense intrik-intrik rimba persilatan yang berliku-liku, durasi cerita yang cepat (durasi cerita di cerita Raja Naga Tujuh Bintang ini hanya berlangsung enam hari lima malam saja), serta diselingi kejutan di sana-sini.



Di dalam cersil yang termasuk dalam karya penciptaan pada periode ketiga kehidupan riwayat penulisan Gu Long ini, ia sepertinya sudah mendapatkan jati dirinya sebagaimana pernah dituturkannya dalam salah satu bukunya yang lain, Tokoh Besar. Gu Long merasa tidak perlu menguraikan secara terinci lagi gerakan kaki dan tangan dalam melancarkan jurus-jurus silat. Pertarungan silat dalam ceritanya Gu Long selalu berlangsung singkat, sebat dan tidak bertele-tele. Jalan cerita lebih penting daripada pertarungannya. Walaupun hampir selalu diceritakan dengan singkat tapi para pembaca selalu mampu dibawanya tenggelam ke dalam khayalan untuk mereka reka sendiri adegan silat , adu cepat pedang dan pertarungan adu meringankan tubuh para jagoan dalam karya karyanya.

Benang merah dari cersil terjemahan Ynt ini pada dasarnya adalah sebuah kisah cinta segitiga antara tiga orang saudara seperguruan. Yang dinamakan cinta segitiga hampir tidak pernah membawa pahala dan kebahagian bagi mereka yang terlibat di dalamnya, malah yang terjadi adalah cinta yang membawa akibat-akibat tragis pada mereka yang terlibat yang bahkan terbawa ke dalam kehidupan selanjutnya, keturunannya maupun orang-orang yang berhubungan dengan mereka.



Dalam cerita ini Gu Long mencoba sekali lagi menjelaskan bahwa dalam kehidupan ini kadang kala dendam akibat asmara dan cinta, pengaruh akibatnya ternyata jauh lebih kejam dan jauh lebih bengis dibandingkan dengan dendam kematian orang tua sekalipun.



Dan siapakah yang salah dan siapa yang benar? Gu Long tidak menjawabnya. Fakta-fakta yang melatar belakangi cerita ini sengaja dibeberkan secara sepotong demi sepotong demi untuk mengurai keseluruhan cerita. Tema balas dendam dan perebutan harta juga tidak ketinggalan. Setting di tempat perjudian dan rumah bunga berjiwa pun tidak lupa, khas nya Gu Long. Ada kapal yang memiliki seribu kaki; juga teknik untuk mematikan 196 buah lampion dalam waktu yang bersamaan. Di tangan para sutradara film yang berpengalaman, cerita ini menjanjikan sebagai sebuah cerita yang sangat sinematik dan potensial untuk konsumsi hiburan.



Sang siau hiap khek yang dikisahkan serba pandai dalam cerita ini dijatuhkan begitu saja di dalam cerita, tanpa ada penjelasan mengenai riwayat dan asal-usulnya. Hal ini membuat pembaca menduga-duga bahwa cerita ini sebenarnya ada prequel atau malah sequelnya. Kemunculan tokoh baru yang misterius di saat cerita bahkan sudah mendekati tamat , semakin menguatkan dugaan tersebut, atau minimal bahwa cerita ini mempunyai kaitan dan sangkut pautnya dengan karya Gu Long yang lain.



Terkadang dibutuhkan juga cerita yang ringan, cukup singkat dan menghibur. Tidak ada musuh sejati, tidak ada orang yang “hitam sampai ke tulang-tulangnya” (ini berbeda dengan cersil-cersil yang menyuguhkan battle royale: pertarungan sang jagoan melawan penjahat tengik sebagai endingnya). Jagoan yang tampaknya serba pintar bak Chu Liu Xiang atau Lu Xiao Feng pun terkadang tampak konyol dan mengalami kekalahan atau tertipu oleh musuh karena salah tebak dan kalah lihay, yang dimaksudkan untuk mengingatkan bahwa mereka adalah juga manusia biasa, bukan dewa ( Chu Liu Xiang dan Lu Xiao Feng adalah dua tokoh kenamaan di cersil karya Gu Long yang lainnya ).



Terlepas dari tata cara penulisan dan editingnya, buku ini adalah salah satu yang masuk kategori di atas. Kata pembukanya ditulis oleh Jin Yong, pengarang cersil kondang, yang juga adalah salah satu sahabat Gu Long.



Cersil adalah serupa nya makanan, ada yang harus kita makan secara perlahan dan di kunyah sedikit demi sedikit demi untuk menikmati kelezatannya, ada juga yang bisa kita langsung telan tanpa mengunyah, ada juga yang kita makan sedikit demi sedikit sampai berhari hari belum habis, tak lupa ada juga makanan yang busuk tidak layak di makan, tapi ada juga yang saking lezatnya kita tidak akan bisa berhenti mangunyah sampai ludas.

Pendekar Mata Keranjang

BAB 1

Tiga pembunuh

Jalan di pegunungan ini biasanya jarang ada orang yang lewat, apalagi saat dimusim dingin yang udaranya begitu dingin menusuk tulang, jarang sekali orang lewat di jalan itu. Bahkan dalam satu hari bisa tidak tampak seorang pun yang lewat di sana.

Karena jalan di pegunungan ini sangat panjang, mungkin panjangnya ada 60 kilometer lebih, ditambah di sepanjang jalan itu tidak ada desa atau pun toko. Tempat itu benar-benar terpencil.

Tapi jalan itu adalah satu-satunya jalan menuju Ling Hai Jun. Pemandangan di sana sangat indah, apalagi dekat puncak gunungnya. Melihat dari tempat tinggi tampak pemandangan gunung berwarna kehijauan di kejauhan. Batu gunung beraneka ragam bentuk dan jenisnya. Membuat pemandangan di sana sangat indah dan menyenangkan. Jalan pegunungan ini, di sebelah kanannya ada sebuah jurang yang dalam. Di sisi tebing terjal terdapat batu-batuan berbentuk aneh. Ada yang berbentuk seperti bintang raksasa dari jaman purba seperti sedang melihat jalan pegunungan itu dengan wajah seram.

Sebenarnya di tebing terjal itu ada dua orang yang sedang bersembunyi di balik dua bongkah batu besar. Mereka dengan wajah seram mengawasi ke arah jalan pegunungan itu.

Wajah kedua orang itu ditutup dengan kain berwarna hitam dan mereka juga mengenakan baju berwarna hitam. Yang tidak sama hanya bentuk tubuh mereka. Yang satu tinggi sedangkan yang satu lagi sangat pendek.

Mengapa mereka bersembunyi di balik dinding tebing yang terjal ini?

Mereka pasti sedang menunggu seseorang!

Untuk apa mereka menunggu orang?

Jawabannya bisa ditemukan dari batu tempat mereka bersembunyi..

Kedua batu besar itu bentuknya bulat seperti bakpao, masing-masing batu itu beratnya kurang lebih 500 kilogram. Di bawah batu ada sebuah kayu dengan diameter sebesar mangkuk dan menancap di dalam tanah. Jika Kayu itu diangkat ke atas maka kedua batu besar itu akan menggelinding ke bawah.

Sekarang hari sudah siang dan waktu telah menunjukkan pukul 12. Tapi langit tampak mendung, tidak ada sinar matahari, udara sangat dingin hingga menusuk tulang.

”Kurang ajar, mengapa mereka belum datang juga?” kata yang pendek tampak sudah tidak sabar.

”Jangan terburu-buru, mereka pasti akan lewat sini,” kata yang tinggi menjawab dengan percaya diri, sepasang matanya tampak berkilau, terus menatap jalan pegunungan itu.

Dari atas tebing yang terjal melihat jalan pegunungan yang berliku-liku, tampak seperti alis seorang perempuan, panjangnya ada 6 meter lebih.

Orang yang pendek mengangkat bahu dan mengeluarkan tawa yang tidak enak didengar, ”Putrinya sangat cantik...”

Orang yang tinggi dengan serius berkata, ”Jangan berpikiran yang tidak-tidak!”

Kata yang pendek, ”Maksudku adalah kalau ada gadis begitu cantik harus mati sungguh sangat disayangkan!”

Orang yang tinggi berkata, ”Itu bukan urusan kita!”

Tiba-tiba orang yang pendek dengan nada senang berbisik, ”Dengar! Mereka sudah datang!”

”Benar, itu suara kereta kuda!”

Suara kereta semakin mendekat.

Tidak lama kemudian di jalan pegunungan sebelah kiri muncul sebuah kereta kuda.

Kereta itu sangat mewah, pasti kereta kuda milik pribadi. Kusirnya seorang laki-laki gemuk, dia terus mengayunkan pecutnya.

”Siap!”

Dengan kedua tangan mereka mengangkat kayu yang sudah disiapkan di bawah batu besar itu.

Kisah Si Naga Terbang

BAB 1
Kasih seorang ibu

Di utara provinsi E, kota penting kantor gubernur Xiang Yang, lokasinya di sebelah kanan daratan sungai Han Sui, berseberangan dengan kota Fan, bukan saja suatu daerah penting yang diperebutkan oleh tentara sepanjang jaman, juga pengiriman barang-barang utara E, barat Yi, selatan Yi, kebanyakan semua melaluinya, para pedagang bersimpang siur di sini, menjadikan keadaan kota sangat ramai.
Gunung Long Zhong di barat daya, menurut cerita tempat belajar para calon pejabat sebelum ujian negara, bekasnya masih tampak, banyak sekali pelancongnya yang pesiar di gunung ini.
Di luar pintu selatan kantor gubernur Xiang Yang, berdiri sebuah rumah besar, didepan pintu merah yang besar, ada tangga giok putih tujuh undakan, di dua sisi pintu ada dua buah patung batu singa warna hijau giok, sebuah papan yang digantung melintang bertuliskan emas. Tertulis “Zhong Yi Xia Hu” (Rumah Pendekar Setia) empat huruf. Di bawahnya tertanda raja Ming Xian Zong tahun kedua belas.
Ini adalah papan yang dianugerahkan raja, di jaman itu, merupakan suatu kebanggaan yang tidak ada duanya.
Pejabat sipil atau militer kantor gubernur Xiang Yang, jika melalui tempat ini, pejabat sipil akan turun dari tandu, pejabat militer turun dari kuda, pertanda menghormati papan emas anugerah raja.
Hari ini, matahari tinggi menyorot, angin sepoi berhembus, didepan dua daun pintu merah yang tertutup di Zhong Yi Xia Hu, tiba-tiba terbuka lebar, seorang laki-laki yang berusia sekitar empat puluhan, berbaju panjang warna hijau laut, bertopi persegi bahan dari sutra hitam, sepatunya sepatu santai bertuliskan Fu, wajahnya merah berjenggot panjang, dengan langkah perlahan keluar, turun dari tujuh undakan tangga giok putih.
Langkah orang berwajah merah itu di belakangnya diikuti oleh empat pemuda berbaju ringkas hitam. Usia empat pemuda itu kurang lebih sama, kira-kira dua puluh satu-dua tahunan, berdampingan di belakang orang berjenggot panjang yang turun dari tangga giok.
Di saat orang berjenggot panjang turun dari tangga, pintu di pinggir juga terbuka, seorang orang setengah baya, menuntun dua ekor kuda, dengan langkah cepat menghampiri didepan tangga.
Orang baju hijau itu berhenti melangkah, dia berbalik melihat sekali pada empat pemuda di belakangnya, katanya, “Pohon besar menantang angin, nama besar menimbulkan iri, setengah tahun ini, kita terus-menerus didatangi orang-orang persilatan yang mengacau, itu bukti kata-katanya benar, guru kalian sekarang pergi menemui seorang teman lama, paling lama satu bulan, paling cepat setengah bulan pasti kembali, kalian semuanya telah mendapat ajaran ilmu silatku, seharusnya aku melepaskan kalian terjun ke dunia persilatan mencari pengalaman, ......”
Empat orang pemuda secara bersamaan memberi homat, berkata, “Kami sekalian tidak bermaksud mencari nama di dunia persilatan, kami hanya ingin mendampingi guru sepanjang tahun, memperdalam ilmu golok.”
Orang berbaju panjang itu tersenyum, “Baik-baiklah menjaga rumah, jika ada orang persilatan datang berkunjung, suruh mereka datang lagi sebulan kemudian.”
Empat orang pemuda dengan hormat menjawab, “Murid sekalian menurut perintah.”
Orang berbaju panjang melirik pada orang yang membawa kuda, katanya, “Zhou Fu, mari kita berangkat.” dia menaiki kuda, menarik tali kekang kuda, dan kuda pun dengan cepat berlari pergi.
Zhou Fu membalikkan kepala memandang pada keempat pemuda itu sambil tertawa, kemudian membalikkan tubuhnya menaiki kuda, pergi menyusul majikannya.
Empat pemuda dengan delapan sorot mata, menatap punggung dua penunggang kuda itu, sampai orang dan kudanya tidak terlihat lagi, baru beriringan kembali ke dalam rumah.
Tidak lama setelah mereka masuk ke dalam rumah, di seberang rumah pendekar Zhong Yi dalam jarak lima zhang, di sebuah gubuk, pintu kayu gubuk itu bergerak, dengan cepat keluar seorang yang bajunya baju kampung dan rambut di kepalanya acak-acakan.
Orang berambut acak-acakan itu, gerakannya sangat waspada, setelah melihat ke sekelilingnya, baru menundukkan kepala melangkah ke depan.
Tangan kirinya menjepit sebuah gergaji, tangan kanan memegang meteran kulit, sekali pandang saja bisa dilihat dia adalah seorang tukang kayu.
Ketika dia berjalan sampai didepan rumah pendekar Zhong Yi, dia sengaja melambatkan langkahnya, meteran kulit di tangannya tidak berhenti diputar, mulutnya bergumam pelan, “Dua tiga dapat enam, tiga tujuh dua zhang satu......”
Suaranya sangat perlahan, walau orang di dekatnya juga sulit dapat mendengar dengan jelas.
Orang berambut acak-acakan begitu melewati rumah pendekar Zhong Yi, tiba-tiba mempercepat langkahnya, kemudian berbelok kearah barat.
Mendadak, sebuah tawa dingin terdengar, bersamaan itu telinganya mendengar suara yang ditekan, “Sahabat, kau berani sekali! Di dalam rumah pendekar Zhong Yi, tidak sedikit jagoan, hanya mengandalkan kepandaian membuat lubang di tembok, kau berani mengusik kumis macan?”
Orang berambut acak-acakan hatinya bergetar mendengar perkataan itu, orang ini bukan saja mengetahui tingkah lakunya, juga sekali membuka mulut bisa tahu perbuatannya, jelas dia bukan orang sembarangan.
Tapi dia sudah lama terjun di dunia persilatan, walau hatinya bergetar, langkahnya tetap tidak berhenti, dengan tetap melangkah besar dia berjalan ke depan, terhadap suara di belakangnya, seperti tidak mendengarnya.
Terdengar suara kebutan baju, satu bayangan orang, lewat dari sisi tubuhnya, menghalangi arah jalannya.
Orang setengah baya yang rambutnya acak-acakan walau seorang angkatan tua, tapi sekarang dia merasa marah, terpaksa mengangkat kepala memandang pada orang yang menghadang.
Begitu mengangkat kepala segera dia merasa satu kilatan dingin menyerang wajahnya, dia terkejut dan mundur ke belakang.
Tapi orang yang menghalangi maksudnya bergerak lebih cepat, tangan kanannya mengulur, seperti bayangan saja, sebuah ujung belati yang berkilau sudah menempel di punggung.
Orang berambut acak-acakan di dalam hatinya dia tahu dia telah ketemu dengan seorang jago hebat, sekali lawannya bergerak belatinya sudah menempel di tubuh, dia tidak mampu menghindar, sorot matanya dipalingkan memperhatikan orang itu. Tampak di depannya berdiri seorang setengah baya dengan wajah pucat, berbaju hitam, kedua pipinya kurus, jika diperhatikan malah tampak seperti sastrawan, jika bukan mengalami sendiri, bagaimanapun juga tidak seperti orang yang berilmu tinggi, yang gerakannya seperti kilat.
Senjata di tangan orang berbaju hitam ternyata bukan sebuah senjata pedang panjang yang tajam, tapi sebuah belati yang panjangnya kurang dari satu che.
Orang setengah baya yang rambutnya acak-acakan memberanikan diri, dengan berbatuk perlahan, dia berkata, “Sahabat, aku dengan Tuan tidak pernah bertemu, tidak ada permusuhan dan tidak ada dendam......”
Orang berbaju hitam itu tertawa tawar, katanya, “Belatiku belum diteruskan membunuhmu......” kata-katanya terhenti sejenak, katanya, “Dengarkan perkataanku, aku ingin kau menjawab dengan jujur, satu kata bohong saja, aku akan membunuhmu.” perkataannya tenang, tapi sepasang sorot matanya yang dingin, membuat orang percaya kata-katanya pasti akan dilaksanakan.
Dengan pengalaman di dunia persilatan yang segudang orang setengah baya yang berambut acak-acakan itu, langsung merasakan keadaan hidup matinya hanya sebatas rambut, dengan tertawa pahit, dia berkata, “Orang rendahan sepertiku, mana bisa tidak menurut, Tuan mau bertanya apa?”
Orang berbaju hitam melihat ke sekeliling sekali, setelah melihat tidak ada orang yang datang, baru dia bertanya, “Apakah kau dari gang tikus tanah, tidak salah dugaanku bukan?”
Orang setengah baya rambut acak-acakan berkata, “Tidak salah, aku memang anggota gang Tikus Tanah.”
Orang berbaju hitam itu berkata, “Mm! Kecuali gang Tikus Tanah, orang persilatan golongan hitam kelas tiga, rasanya tidak ada orang yang berani mengusik rumah Pendekar Zhong Yi......”
Orang setengah baya berambut acak-acakan melanjutkan perkataannya, “Apakah Pendekar Zhong Yi, Chen Dao Long, adalah temanmu......?”
Orang berbaju hitam dengan dingin menjawab, “Aku yang bertanya padamu, lebih baik kau jawab saja, orang yang berani mencuri di rumah pendekar Zhong Yi, pasti orang yang paling hebat di perkumpulanmu, siapa namamu?”
Orang setengah baya yang berada di bawah ancaman, terpaksa menjawab apa yang ditanyakan,
“Aku Shi Guang Jing.”
Orang baju hitam berkata, “Saudara Shi, apakah yang di dunia persilatan dijuluki Satu Milipun Tidak Salah?”
“Benar itulah aku.”
Orang baju hitam tiba-tiba menarik belatinya, sambil tertawa berkata, “Maaf, maaf, ternyata Anda adalah orang nomor dua di geng Tikus Tanah, aku minta maaf.”
Shi Guang Jing berkata, “Baik, baik, sahabat, siapa namamu?”
Orang berbaju hitam menggelengkan kepala berkata, “Saudara Shi lupa lagi, akulah yang berhak bertanya pada saudara?”
Shi Guang Jing merasakan orang ini sifatnya aneh, sulit ditebak, begitu berhadapan tampak ramah, tiba-tiba bisa berubah menjadi sangat kejam, seperti ingin membunuh, sesaat dia menjadi bengong, tidak tahu harus berkata apa.
“Saudara Shi, mari kita cari tempat untuk bicara, aku ada sedikit urusan untuk dirundingkan dengan saudara Shi.” Sambil berkata, dia mengangkat kaki kanannya, mengait satu batu sebesar telur angsa, menaruhnya di telapak tangan kiri, telapak tangan kanannya dengan pelan menekan kebawah, dua telapak diputar dan digosok, segera batu di tangannya hancur menjadi pasir abu, meluruk jatuh ke tanah.
Menyaksikan tenaga telapak tangan orang baju hitam itu, hati Shi Guan Jing sangat terkejut, cara menghancurkan batu menjadi abu seperti ini, menandakan ilmu silatnya sudah mencapai pada tingkat tinggi. Asal dia menyerang, segera dia dapat mengambil nyawanya.
Saat itu dia berbatuk pelan berkata, “Apa pesan saudara? Aku akan menurutinya.”
Orang berbaju hitam itu tertawa, berkata, “Orang pintar bisa melihat keadaan, saudara Shi memang orang pintar.” Sekali bergerak tangannya menangkap pergelangan tangan kiri Shi Guang Jing, dengan langkah besar maju ke depan.
Saat ini, tubuh Shi Guang Jing sudah dikuasai oleh orang berbaju hitam itu, dia hanya bisa menurut saja.
Orang berbaju hitam itu menuntun Shi Guang Jing, tidak melalui jalan raya melainkan melewati sebuah kebun gandum, setelah sampai pada pemakaman besar yang ada pohon cemara tua. Dia melepaskan tangan kirinya katanya, “Tempat ini sangat sepi, hanya sedikit berantakan.”
Shi Guang Jing matanya berputar melihat ke sekeliling tempat itu, tampak pohon-pohon cemara tua menutup cahaya matahari, makam-makam berderetan, ini sebuah tempat yang menyeramkan. Dia menganggukkan kepala menjawab, “Benar, memang tempat ini tidak terurus.”
Orang berbaju hitam mengangkat kepala berkata, “Saudara Shi, menurut yang aku tahu, geng Tikus Tanah kalian, adalah tempat berkumpulnya para pencuri dari jaman dulu sampai sekarang, tidak saja mencuri orang hidup, juga mencuri orang mati, sampai menjadi satu aliran tersendiri di dunia persilatan, saudara Shi yang duduk di kursi kedua tertinggi di geng Tikus Tanah, rasanya pasti tidak takut pada setan.”
Shi Guang Jing batuk sedikit, berkata, “Setan? Aku tidak takut, tapi aku malah takut pada manusia.”
Orang berbaju hitam itu tertawa, katanya, “Saudara Shi berkata benar, manusia memang lebih menakutkan dari pada setan, paling sedikit manusia bisa membuat orang lain menjadi setan.”
Shi Guang Jing walau pengalamannya luas, tapi juga tidak bisa menerka apa maksud tujuan orang berbaju hitam ini, tapi dia tahu dalam hati, ilmu silatnya terlalu jauh dibanding dengan lawannya, sekali dia menyerang, sudah bisa mematikan dirinya, sebelum tahu maksud tujuan lawan, terpaksa sebisanya dia tidak berkata.
Orang berbaju hitam itu mengulurkan tangan, menepuk bahu Shi Guang Jing, melanjutkan perkataannya, “Saudara Shi, kali ini gang mu, siap mencuri di rumah pendekar Zhong Yi, sampai kau sendiri yang turun tangan, rasanya, barang yang akan dicuri, pasti sangat berharga.”
Shi Guang Jing yang bahunya ditepuk dua kali oleh orang berbaju hitam, sudah sangat takut sekali, seluruh tubuhnya terasa dingin, terpaksa dengan jujur menjawab, “Benar, aku ingin mencuri Gulungan Besi, dan Golok Pusaka nya pendekar Zhong Yi yang dianugerahkan raja.”
“Ah!” orang berbaju hitam berkata, “Golok Pusaka anugrah raja itu, adalah senjata ternama di dunia persilatan, disebut Liu He, menurut kabar golok itu ditempa dengan bahan enam macam logam, jika ada bahaya begitu keluar dari sarungnya, mengeluarkan sinar yang tajam, ketajamannya golok ini bisa memotong besi seperti tanah, memotong giok dan logam, di dunia persilatan golok ini banyak membunuh orang, belakangan diambil oleh jago istana, disimpan di Istana Terlarang, golok ini sudah puluhan tahun tidak muncul di dunia persilatan, tidak diduga ketika Chen Dao Long menolong baginda raja, baginda raja menganugerahkan Golok Liu He padanya, membuat golok yang dipandang oleh dunia persilatan sebagai biang bencana ini, muncul lagi di dunia persilatan......” dia sepertinya sadar bicaranya terlalu banyak, tiba-tiba dia berhenti berkata, dua sorot mata dingin menatap pada wajah Shi Guang Jing.
Sorot mata yang seperti senjata tajam itu, berkilau mengeluarkan hawa pembunuhan, membuat punggung Shi Guang Jing terasa dingin, dengan batuk sekali, dia menenangkan diri, katanya, “Tuan sungguh luar biasa, bisa mengetahui seluk-beluk golok pusaka Liu He, aku salut padamu.”
Orang berbaju hitam tertawa, berkata, “Tidak juga? Tapi orang-orang gang kalian, rasanya tidak ada orang pun yang pantas memakai golok pusaka itu, entah buat apa mencurinya?”
Hawa membunuh di matanya sedikit memudar, Shi Guang Jing sedikit tenang, dengan memberanikan diri, berkata, “Gang kami menerima pesanan orang mencuri golok pusaka, dan grasi Gulungan Besi yang dianugerahkan raja pada Chen Dao Long.”
Orang berbaju hitam tertawa dingin, berkata, “Rasanya bukan! Orang-orang gang Tikus Tanah, rasanya tidak akan memegang kesetiaan dan kebenaran, kata-kata dapat pesanan orang, tidakkah dirasakan terlalu hormat?”
Shi Guang Jing tertawa kaku, berkata, “Tuan sangat teliti, aku kurang tepat menggunakan kata-kata, begini, ada orang mau membayar dengan banyak sekali uang, agar kami mencurikan Golok Pusaka dan Gulungan Besi.”
“Siapa?”
Shi Guang Jing tertegun, berkata, “Siapa orang itu, mereka tidak mau mengatakannya, tapi......”