Rabu, 24 Juni 2009

Ho Keng Koen Loen


HO KENG KOEN LOEN

YANG PERTAMA DARI PENTALOGI WANG DULU

Tahun 1952-1953, Penerbit Gie Hiap di Tasikmalaya menerbitkan serial Hok Keng Koen Loen, yang disadur oleh penterjemah cerita silat top saat itu, Tjan Khim Hiap. Belum genap serial ini selesai diterbitkan, di Jakarta diterbitkan serial Ho Keng Koen Loen yang disadur oleh OKT (Oey Kiem Tiang). Pertama berupa serial di publikasi Star Weekly, lalu kemudian pada tahun 1954 menjadi serial silat pertama yang dipublikasikan penerbit Tjerita Silat Keng Po.
Tentunya ada yang luar biasa pada Ho Keng Koen Loen, sehingga dua penerbit besar di era itu sampai berani menerbitkan sebuah kisah silat secara bersamaan.
Di akhir tahun 2000, sutradara Ang Lee merilis sebuah film layar lebar berjudul Crouching Tiger, Hidden Dragon. Karya sinematografi ini memenangkan sejumlah piala Oscar. Ang Lee mendasari film suksesnya itu dari sebuah cerita silat berjudul Go Houw Tjhong Liong.
Go Houw Tjhong Liong adalah bagian ke-4 dari Pentalogi Wang Dulu. Pentalogi yang dimulai dari Ho Keng Koen Loen.
odipi (On Demand Printing) Sungai Telaga kini menghadirkan kembali Ho Keng Loen Loen! Merayakan 55 tahun lebih ulang tahun penerbitan pertama Ho Keng Koen Loen di Indonesia, kisah ini kembali dapat Anda miliki dalam bentuk Buku Linen Hardcover Laser Printing dengan sampul Jaket Cover berwarna 2 Jilid @ 425 halaman

Sedikit resensinya sebagai berikut :
KETIKA cersil masih terasa begitu murni, tanpa ilmu silat luar biasa, belum ada lweekang (tenaga dalam) tak kepalang lihay yang mampu meremukkan batu cadas gunung, pada masa itulah berjaya karya-karya Wang Du-lu.
Kira-kira lima puluh tahun lalu, untuk pertama kalinya saya mencuri baca cersil “HO KENG KOEN LOEN” terjemahan OKT, dari guntingan harian Keng Po yang dibundel Papa saya. Ternyata saya langsung menyukainya, dari sinilah awal kegemaran saya membaca cersil. Kendati detail cerita sebagian besar sudah terpupus dari memori oleh sang waktu dan banyaknya buku yang dilalap, namun intisarinya masih mengendap dalam otak sampai hari ini. Mohon dimaafkan kalau ada kesilapan, namun lebih-kurang sinopsisnya sebagai berikut;
Kang Siauw Hoo, sebagai bocah, menyaksikan sendiri bagaimana ayahnya tewas di tangan Pauw Koen Loen. Padahal beliau adalah salah seorang murid Pauw. Memang ayah Siauw Hoo telah melakukan suatu kesalahan hingga tak bisa diampuni sang guru sekaligus pemimpin perkampungan Pauw yang sangat otoriter. Betapapun, si bocah menyimpan dendam kesumat dan bersumpah dalam hati, kelak akan menuntut balas pada Pauw.
Sebagai anak-anak, Siauw Hoo tetap tinggal di perkampungan Pauw, diperlakukan sebagai pelayan hina. Hanya, Ah-Loan, cucu perempuan kesayangan Pauw yang bersimpati kepadanya.
Menjelang remaja, Siauw Hoo memutuskan untuk berkelana di rimba persilatan sembari menuntut ilmu silat. Betapa naifnya, ketika ia berlatih ginkang (ilmu meringankan tubuh) dengan cara melompat naik-turun ke atap genteng penginapan.
Ketika bertemu seorang pendekar dari wilayah lain, Siauw Hoo mengadukan nasib. Si pendekar bersedia mengikutinya ke perkampungan Pauw. Namun kakek Pauw kelewat kosen, hingga pendekar undangan Siauw Hoo dipecundangi.
Tak kenal putus asa, Siauw Hoo terus mencari, sampai bertemu seorang kakek aneh, yang selalu tahu-tahu berjalan di depannya, kendati tadi sudah ditinggalkan Siauw Hoo yang berkuda. Sadarlah pemuda kita, kalau ia telah bertemu pendekar sakti. Memang benar, sang kakek adalah Kiu Hoa Loojin, yang membawa Siauw Hoo ke Kiu-hoa-san (Gunung Sembilan Bunga). Di sini Siauw Hoo digembleng ilmu silat bersama suheng (abang seperguruannya) , si Gagu Ah-Hiap.
Bertahun-tahun kemudian, Siauw Hoo turun gunung sebagai pemuda gagah dengan nama baru, Kang Lam Hoo. Dalam pengembaraannya ia bertemu dua pendekar muda lain. Lie Hong Kiat yang tenang dan bergaya pelajar, serta Kie Kong Kiat yang gagah dan temberang.
Kang Lam Hoo menantang Pauw Koen Loen bertanding. Sekarang memang ilmunya sudah tinggi, hingga bisa membuat si kakek Pauw sengsara habis-habisan. Namun cintanya pada Ah-Loan yang telah menjadi gadis pendekar jelita membuat Kang terombang-ambing antara dendam dan cinta. Sedangkan Lie Hong Kiat dan Kie Kong Kiat merupakan sahabat sekaligus saingannya dalam bersilat dan kemelut asmara!
Sesungguhnya “Ho Keng Koen Loen” atau “Riwayat Kang Lam Hoo” merupakan cerita pertama dari pentalogi (lima buku) karya empu Wang Du Lu (1909-1977). Pentalogi tersebut diterbitkan di Hong Kong dari tahun 1936 sampai dengan 1944.
OKT yang mengalihkannya ke bahasa Indonesia, dan kemudian dibukukan oleh penerbit Keng Po berurutan sebagai berikut:

“Ho Keng Koen Loen” (1954)
“Po Kiam Kim Tjee” (1956)
“Kiam Kie Tjoe Kong” (1958)
“Go Houw Tjhong Liong” (1959)
“Tiat Kie Gin Pan” (1960)
Dari pentalogi ini yang paling terkenal kemudian adalah “Go Houw Tjhong Liong” karena difilmkan oleh Ang Lee dengan tajuk, “Crouching Tiger Hidden Dragon”. Aktor simpatik Chow Yun-fat berperan sebagai Li Mu Bai.
Dalam dialek Tionghoa-Hokkian, Li Mu Bai dibaca Lie Bouw Pek (bukan lain daripada anak Lie Hong Kiat yang menjadi murid Kie Kong Kiat dan juga mewarisi ilmu Kang Lam Hoo).
Cara bertutur Wang Du Lu yang diterjemahkan dengan baik oleh OKT telah membuat ribuan pembaca kesengsem. Sulit dilupakan bagi yang pernah membacanya. Sedangkan mengenai aspek humanisme (kemanusiaan) serta kependekaran Kang Lam Hoo menurut pendapat saya pribadi, bisa disejajarkan dengan riwayat Miyamoto Musashi, si ronin samurai yang menggetarkan.
Demikian sekadar nostalgia ke masa awal kejayaan cersil demi menyambut ulang terbit “Ho Keng Koen Loen” setelah 55 tahun!

Lencana Tujuh naga

inilah sedikit cerita sambungan Lencana Tujuh Naga bagian ke 2, yang cayhe dapat naskah nya dari O K T.

“Maka itu, akupun harus dapat merubah kebiasaanku.” Demikian pikirnja. “Tanpa sikap halus, pertjuma andaikata aku bisa menjingkirkan Bouw Kun serta membubarkan Ho Lok Paj. Orang bisa mengatakan aku galak tidak karuan..”

Demikian anak muda ini membuat perdjalanannja dengan sifatnja bagaikan telah berubah. Hari itu ia tiba di Kho Pie Thiam. Lantas ia mentjari TJiu Tiam, atau rumah makan. Dimana ia mengisi perutnja sambil minum arak. Tjawan demi tjawan diminum perlahan-lahan. Inilah karena ia sambil berpikir, ‘di Jan San nanti, dimana aku akan tjari adjah dan bundaku?’ ia berpikir keras hingga tanpa merasa, ia telah menenggak habis satu potji arak. Hingga tanpa merasa, ia mendjadi sedikit pusing. Baru setelah itu, ia ingat akan mentjari penginapan.

Habis membajar kepada pelajan, selagi keluar dari rumah makan, Sie Kiat berdjalan dengan terburu-buru. Hampir dia bertabrakan dengan seorang jang berdjalan didepannja. Sjukur karena kelintjahannja, dapat ia lantas mengegoskan tubuh. Namun, berbareng dengan itu, ia mendengar tjatjian ,Oh, orang buta beribu andjing!...” dibarengi totokan ke djalan darah Khie-haj!

Perasaan terperandjat, heran dan mendongkol bertjampur mendjadi satu dibenaknja. Sjukur dia bermata djeli dan gesit pula. Terus ia menoleh akan melirik penjerangnja jang mulutnja kotor.

Disana berdiri tegak seorang dengan roman bengis, dia itulah jang disebut orang berkepala matjan tutul dan bermata roda. Mata jang bersinar sangat tadjam. Usianja mungkin baru kira-kira 27 tahun. Tegas dia bertubuh kekar, mirip dengan seorang ahli tenaga dalam.

Mulanja hatinja panas, dilain detik Sie Kiat ingat akan harga dirinja. Maka sebaliknja daripada bergusar dan menegur, ia djusteru merangkap kedua tangannja memberi hormat seraja berkata merendah:

”Maaf sahabat! mengingat siapapun dapat keliru mengambil djalan, maka tak usahlah kau datang-datang memaki orang!”

Di dalam hati, Toan Leng menjesal ia tidak tahu ilmu kepandaiannja orang ini. Iapun menjesal sudah tidak ingat meminta peladjaran ilmu kegesitan Kiu Liong Lian Hoan Pou dari Bu Tong Pai dari kakeknja. Barusan itu, hampir ia tak dapat menjelamatkan dirinja.

Orang tidak dikenal itu mendjadi gusar. Terang dia tidak puas mendengar teguran.

“Hai botjah!” bentaknja, “Apa kau tidak tahu siapa tuan besarmu ini? Bagaimana kau berani menegur aku? Oh, kau rupanja sudah menjesal usiamu jang telah diperpandjang. .?”

Habis sabarnja Sie Kiat, atau mungkin ia terpengaruhkan air kata-kata satu potji jang telah ditenggaknja. Maka djuga, ia lantas berkata keras:

”Sahabat, apakah dengan kata-katamu ini kamu mau artikan aku tak bakal hidup sampai pada djam ketiga?”

Orang itu mundur satu langkah. Si pemuda menanjanja dengan sinar mata berpengaruh. Tapi dia bukannja mau menjingkirkan diri, hanja sembari menunduk kearah belakangnja. Dia berkata keras:

“Oh, botjah jang baik, djikalau kau tidak dihadjar, nistjaja kau tidak akan merasa puas. Baiklah. Mari kita pergi keluar dusun ini, ke tandjakan Hong Jap Po. Disana aku akan menghadjar adat kepadamu!”

Sepasang alis Sie Kiat terbangun.

“Kau djalanlah kalau kau suka!” sahutnja gagah.

Orang itu tidak menjawab. Sebaliknja, segera dia mengangkat kakinja berdjalan pergi. Sie Kiat bertindak mengikuti.

Tatkala itu gunung disinari tjahaja matahari lohor. Mega berwarna kekuning-kuningan. Tandjakan Hong Jap Po tampak sunji sekali. Rumputnja putih. Di tempat jangsepi itu djusteru berdiri berhadapanlah dua orang jang hendak bertempur itu, si galak dan si berbudi pekerti halus.

“Tuan, apakah she dan nama besarmu?” Sie Kiat masih bertanja sambil memberi hormat.

“Liok Beng!” sahut orang jang ditanja, singkat. Suaranja ketus, dan terus dia balik bertanja: ”Botjah, kau djuga menjebutkan namamu buat tuan besarmu mendengar-nja!”

Hati Sie Kiat panas, akan tetapi, ingat harga dirinja, ia mengekang diri. Ia memberi hormat pula:

“Aku jang rendah Liu Sie Kiat dari Siang Jang,”sahutnja sabar.

“Liu Sie Kiat dari Siang Jang..?” pikir si orang galak, hingga dia mengerutkan alisnja. Lantas menanja pula, ”Kau kenal Hui Thian Giok Liong Liu Kiam Hiong atau tidak?”

Sie Kiat berdiri tegak, sikapnja gagah.

“Ia adalah ajahku!”sahutnja terus terang, suaranja gagah.

Mendadak sontak Liok Beng tertawa tergelak-gelak, seterusnja berkata njaring:

”Ini dia jang dibilang, mentjari sampai sepatu besi petjah, tidak djuga dapat diketemukan, sekali ketemu, mudah sekali! Aku termasuk orang muda, tjuma aku mendengar sadja halnja Liu Kiam Hong bagaimana gagah luar biasa, tetapi setelah aku tjari dia di tigabelas propinsi, tak dapat aku menemukannja! Sajang, sungguh sajang!... entahlah habis dihadjar Bouw Kun, dia telah pergi entah kemana.. atau..!”

Sie Kiat mendjadi tidak puas sekali. Mulut orang itu kotor sekali!

“Sahabat she Liok!” ia memutus, “Tentang ajahku, umumlah jang nanti memberikan penilaian, kelak di kemudian hari, kaum Bulim nanti akan mengetahuinja sendiri! Perihal dirimu, apakah maksudmu mentjari ajahku? Sekarang aku belum sempat menemuinja, djangan kau menjesal, sekarang didepanmu berdiri aku si orang she Liu! Apakah kehendakmu? Kau sebutkan sadja. Asal kau dapat merebut kemenangan dari aku, Liu Sie Kiat, sama sadja, namamu bakal sama tersohornja!”

Kembali si orang she Liok tertawa, dia sangat djumawa.

“Botjah, kau sungguh gagah!” katanja mengedjek. “Sajang kau seorang bu beng siauw tjut! Bertempur denganmu mana dapat disamakan dengan aku menempur ajahmu?”

Sie Kiat tertawa:

“Sahabat she Liok, kau terlalu menghargakan dirimu sendiri, terlalu berlebihan!” demikian katanja. “Sudah, tidak usah kau mengatakan apa-apa lagi jang tidak ada sangkut pautnja! Paling benar kau sebutlah kehendakmu! Kau ingin kita bertempur dengan tjara apa? Asal aku kalah, akan aku adjak kau menemui adjahku! Supaja ajahku dapat memohon pengadjaran beberapa djurus dari kau! Sebaliknja, djikalau apa latjur kaulah jang gagal…”

Liok Beng menepuk pahanja.

“Asal aku kalah!” katanja njaring,” Aku akan mentjutji tangan, aku akan mundur dari dunia kang ouw, untuk kembali ke Jan San, guna beladjar terlebih djauh, buat nanti turun gunung lagi kedua kalinja! Nah, botjah, itu waktu aku akan tjari kau, guna mengambil batok kepalamu dari batang lehermu!...”

Sie Kiat mendjadi berpikir mendengar orang menjebut Jan San-gunung Jan San. Ia djadi ingat, djikalau demikian, mungkin adjah bundanja tidak berada di gunung itu, dan orang kasar ini entah ada hubungannja apa dengan Jan San DJie-loo, kedua orangtua kosen dari Jan San…

“Jan San Djie-loo tinggal dilembah Keng Liong di puntjak Biauw Hong San,” pikirnja lebih djauh, ”Maka itu, andai kata ajah bundaku benar hidup menjendiri di Jan San, tentulah dibagian selat jang mentjil dan sunji. Bukankah Jan San luasnja ribuan lie? DJie-loo bukan dari kalangan lurus, tidak nanti ajah bundaku sudi bergaul dengan mereka berdua, maka itu kalau aku tjoba pergi kepada mereka, mereka tentulah tidak tahu menahu tentang ajah dan kedua ibuku..”

Oleh karena memikir demikian, anak muda ini mendjura kepada si kasar dan garang untuk berkata sembari tertawa:

”Sahabat, urusan di belakang adalah urusan di belakang hari! Siapakah dapat meramalkan apa jang bakal terdjadi? Aku sendiri, sekarang ini, aku merasa sangat berbahagia bakal berkenalan ilmu kepandaian jang liehaj dari Jan San DJie-loo!”

Sengadja Sie Kiat mengutjap demikian, guna memantjing Liok Beng menjangkal atau membenarkan hal dia mempunjai hubungan tidak dengan DJie-loo, dan kalau ada, apa hubungannja itu guru dengan muridkah?

Liok Beng benar-benar djumawa! Mendengar orang menjebut-njebut Jan San DJie-loo. Dia tidak kaget, dia djusteru bergembira. ja, dia sangat puas! Maka dia tertawa berkakakan. Lalu katanja keras:

”Hari ini aku akan membuat kau dapat mementang matamu! Nah, mari kita mentjoba-tjoba satu dengan jang lain!”

Toan Leng (Sie Kiat) mendongkol, sampai tidak mau mengatakan sesuatu. Dia tjuma terbangun sepasang alisnja. Habis itu, dia kata njaring:

”Sahabat Liok, baiklah, aku akan mengiringi kehendakmu!”

Lagi-lagi Liok Beng tertawa berkakakan. Hanja kali ini tawanja itu diteruskan dengan tangannja dibawa kebelakang punggungnja, guna menghunus sebatang golok-nja jang terang berkilauan. Selagi ditjabut, golok itu bersuara njaring ”srettt!” itulah golok kong too, jang segera dipakai menuding lawan!

“Nah, botjah, hajo, kau pun keluarkan sendjatamu! Bentaknja.

Sie Kiat mengawasi dengannja membawa lagak angkuh, terus tanpa mengeluarkan sepatah kata, ia meng-hunus pedangnja…pedang Ang Hui Pookiam jang tua itu…hingga suara pedang terdengar bagaikan auman naga…

Pedangnja djuga mengeluarkan tjahaja berkilau..

Melihat pedang lawan, Liok Beng sendirinja mundur lima tindak!

“Pedang djempolan!” teriaknja, kagum dan heran.

Sementara itu, banjak orang mulai menonton dari kedjauhan, namun mereka itu berdiam semuanja. Hingga sunjilah diantara mereka semua.

Sie Kiat berlaku tenang.

“Sahabat she Liok,” katanja sabar, “Djikalau kamu menganggap pedangku pedang luar biasa, tak apalah suka aku mengalah, suka aku menjambut beberapa djurusmu dengan bertangan kosong!...”

“Hm! Liok Beng berseru tawar. Dia mendjadi gusar sekali, ”Oh, botjah, bagaimana djumawamu! djikalau benar kau tak menggunakan sendjata tadjam, ingin kau menjambut golok kong too ku dengan tanganmu jang berdarah daging, baiklah, akan aku melajanimu!

Aku djandji, asal selama lima puluh djurus aku tetap tidak sanggup membereskan kau maka hendak aku menepuk pahaku buat terus pergi mengangkat kaki!”

Matanja Sie Kiat berputar, otaknja berpikir tjepat, ”Manusia ini sangat takabur, djikalau dia tidak diadjar adat, mungkin kelak dibelakang hari dia dapat melakukan sesuatu jang buruk!”

Setelah berpikir demikian, Toan Leng tertawa, pedangnja dimasukkan pula ke dalam sarungnja. Segera ia memasang kuda-kudanja seraja terus berkata:

”Nah, sahabat she Liok, beginilah aku bersiap sedia menjambutmu!” dan kata-kata itu ditutup dengan satu rangkapan tangan tanda memberi hormat!”

Liok Beng tertawa tergelak-gelak. Tidak ajal lagi, dia menjerang dengan goloknja! Sie Kiat bersikap dengan sikap Tong Tju Paj Hud-katjung memudja sang buddha. Terus ia berkelit dari batjokan, menjusul mana, ia membalas dengan satu gempuran ke arah dada si djumawa.

Itulah serangan hebat, si Liok ketahui itu, maka didalam kaget, dia segera berlompat mundur. Tidak sempat dia menangkis, terpaksa dia mesti berkelit mengalah.

DJusteru orang mundur, djusteru si anak muda merangsak terus. Hanja kali ini serangan berupa hadjaran kepada golok lawan. Agar golok itu bisa dibikin terlepas dari tjekalan dan djatuh ke tanah!

Liok Beng mau mengandalkan tenaganja jang besar, dengan kedua tangannja, ia memegang keras gagang goloknja. Diluar dugaannja, serangan lawanpun keras sekali. Maka mau atau tidak, goloknja kena tertolak, lantaran mana, dengan djurus “Poan Liong Tjie How-naga melingkar menerkan harimau”. Ia menggunakan kedua lengannja dengan berbareng, tangan kanan mendjurus kedada, tangan kiri menjambar kebawah, kearah perut lawan, menjusul mana, kedua kakinjapun menendang dengan bergantian!

Tidak ampun lagi, Liok Beng lantas mendjadi sasaran. Sjukur untuknja, lawan masih mengingat akan kewelas-asihan, lantaran mana, tenaga serangan itu diperkurang. Dengan demikian, dia tertolak mundur tiga langkah, tetapi dia beradat keras, bukannja dia sadar dan insaf, dia menuruti kemarahannja. Habis terpaksa mundur itu, dia lantas madju pula berlompat menjerang dengan maksud membuat pembalasan. Dia menggunakan tipu silat “Toat Pauw DJiang Wie,”—“Meloloskan djubah menjerahkan kedudukan.”

Terkedjut djuga Sie Kiat menjaksikan lawan masih demikian tangguh dan gesit. Ia pun menjesal kebaikannja terbalas kedjahatan. Di detik itu djuga, panaslah hatinja. Maka ia segera membentak:

”Oh, orang tak berbudi! Orang tak tahu selatan!” sedangkan kedua tangannja dibarengi dipakai menjerang sambil kakinja pun bekerdja sama!

Itulah salah satu djurus dari Liong Houw Hian Jang TJiang jang dinamakan “Teng San Kan Goat,”—Mendaki Gunung, mengedjar rembulan.”

Liok Beng terkedjut dan repot. Tak sempat ia menggunakan goloknja, bahkan sendjatanja itu kena tersampok hingga tubuhnja turut miring, karena mana ia mendjadi terhujung mundur lima tindak pula. Kaget dan gusar tertjampur mendjadi satu, dan napaspun memburu keras. Dipihak lain, mukanja pun mendjadi merah bahkan mendongkol dan malu!

“Orang she Liu, kau benar hebat!”serunja kemudian. “Kepandaianku benar tidak berarti akan tetapi, hendak aku menanja kau, kau berani atau tidak memasuki selat Keng Liong Kok?”

“Hahaha!” Sie Kiat tertawa, sedangkan matanja menatap lawan itu: ”Jan San toh bukannja gunung golok! Atau taruh kata benar, mustahil aku ngeri mendatanginja? Sahabat, hendak aku menitip kata-kataku kepada gurumu, dalam waktu setengah bulan, aku bakal pergi berkundjung kesana!”

Baharu Sie Kiat mengutjap demikian, ia menjesal sendiri. Ia sadar pengaruh arak membuatnja bitjara demikian sembarangan.

Liok Beng menggertak gigi. Dia mengepal keras tangannja, ia atjungi.

“Oi botjah tjilik!” serunja. “DJangan kau takabur! Baiklah, tuanmu akan menantikanmu di Jan San!”

Sie Kiat terpaksa tertawa. Tak dapat ia mundur pula.

“Baiklah, begini djandji kita!” sahutnja.

Liok Beng mendelik, terus ia memutar tubuh, akan mendjemput goloknja jang terbang djatuh ke tanah, untuk seterusnja menangkat kaki tanpa menoleh pula..

Karena pertempuran berhenti, banjak penontonpun lantas bubaran. Mereka itu agak menjesal tidak dapat menjaksikan lebih lama dan lebih seru.

Sie Kiat mendongak, melihat langit. Ia menarik napas perlahan.

“Pergi ke Jan San?” pikirnja kemudian. “Disana aku mentjari adjah bundaku atau buat menempur Jan San DJie-loo si dua orang tua aneh?..”

Tak dapat anak muda ini bersangsi lama-lama. Segera dia mengambil keputusan, segera ia mulai berangkat. Maka itu selang lima hari, ia sudah tiba di kota Peng TJiang di mana ia terus memasuki pintu kota. Paling dahulu ia mentjari penginapan, karena itu waktu sang sore sudah tiba.

Pengurus hotel menjambut ramah dan dengan hormat menanjakan she dan nama orang.

“Liu Sie Kiat!” sahut Sie Kiat terus terang.

“Ada seorang tamu jang terhormat, lekas tundjukkan kamar kelas satu!” kata pengurus hotel itu, jang berpaling ke dalam dan suara njaring.

Lantas terdengar satu suara menjahut, terus muntjul orangnja, seorang pelajan, jang menjambut tamunja dengan hormat.

Heran si anak muda menjaksikan tuan rumah demikian ramah dan telaten.

Pelajan tahu tugasnja. Segera dia menjiapkan air buat mentjutji muka dan tangan. Habis mana terus dia menjediakan barang hidangan.

Sie Kiat lantas membersihkan diri, setelah selesai, iapun duduk akan bersantap. Ia malah minum arak pula.

Habis tamunja bersantap, pelajan menjuguhkan teh wangi.

“Sempurna perlajanan penginapan ini,” pikir Sie Kiat. Ia anggap, itulah tentu disebabkan pengaruh uang.

Tak lama, muntjul pula si peladjan. Dia mendjura dan kata:

”Tuan, madjikan kami mengirim salam!”

Kali ini Sie Kiat heran djuga. Penghormatan buat apakah itu? Tengah ia berdiam, dari luar kamar terdengar langkah kaki, disusul muntjulnja seorang pria bertubuh kekar dengan kumis kaku. Dia bersenjum manis dan sembari memberi hormat lantas berkata ramah:

”Tuan Liu telah berkundjung, bagi gubuk kami, sungguh suatu kehormatan!”

Pendekar pedang kail mas

Seorang anak kecil yatim piatu bernama Sen Sin Hiong yang berumur 7-8 tahun harus bekerja berat pada sebuah keluarga Sun, karena Sun Bu Pin telah meminjamkan uang kepada Sin Hiong untuk penguburan ibunya. Karena Sun Bu Pin merasa dendam kepada ibunya Sin Hiong, akhirnya dia terus menerus menyiksa Sin Hiong dengan bekerja berat, akhirnya dia tidak tahan dan memberontak, tapi dia di hajar sampai babak belur hingga tidak sadarkan diri dan di buang ke hutan untuk makanan serigala.

Dalam keadaan hampir mati Sin Hiong di tolong seorang jago tua yang sudah mengawasi keadaan Sin Hiong selama 3 bulan, jago tua ini mengajarkan ilmu silatnya yang hebat selama 10 tahun.

Setelah lulus guru Sin Hiong meninggal dunia, sebelum meninggal dia berpesan supaya Sin Hiong mendatangi 9 perguruan besar di dunia persilatan, dia harus bertanding dengan 9 perguruan besar untuk membalas dendam, sebab gurunya dulu kalah bertanding karena di keroyok oleh sembilan perguruan besar.

Dengan membawa Pedang Kail Emas warisan gurunya, Sin Hiong kembali ke desa dulu ingin membalas dendam pada Sun Bu Pin. dst

Judul buku : PENDEKAR PEDANG KAIL EMAS,

Karangan : LIU CAN YANG

Terjemahan: Liang J Z

Terdiri dari 3 jilid tamat

Total : 761 hal.

Sabtu, 09 Mei 2009

Legenda Golok Halilintar

Halilintar memecah di langit yang berwarna kelam abu-abu dan menghantam bumi!

Getaran bunyi halilintar yang mengelegar-gelegar dahsyat bergentayangan dicelah-celah lembah gunung lama sekali hilangnya.

Kilatan cahaya yang datangnya hanya sekilas, menerangi tiga macam barang yang membuat orang miris, diatas bukit tunggal yang menyerupai kepala botak dewa Lohan. Golok panjang yang putus, Pedang yang patah, Busur panah yang cacad.

Golok panjang yang putus, hanya menyisakan bagian kira-kira dua cun dari ujung goloknya, tetapi diatas puncak menusuk tanah batu yang kerasnya bagaikan emas dan besi diatas, ekor pitanya berwarna merah darah mencolok berkibar di terpa angin, gagang golok tersebut berbeda dengan yang lain, besarnya sama dengan jari tangan anak-anak, kelihatan terbuat dari bahan yang empuk, sekarang berdiri dengan tegak.

Pedang yang patah, tergeletak di tempat tidak jauh dari golok panjang yang putus, ujung pedang yang telah patah setengah, entah dimana bagian patahannya? Dalam kilatan halilintar, gagang pedang itu mengeluar-kan cahaya ke sekeliling tempat itu, sekali pandang sudah dapat diketahui gagang pedang itu telah tertanam banyak batu perhiasan.

Busur panah yang cacad, tergantung di pinggir tebing tidak jauh dari golok putus, pedang patah, sepertinya hampir jatuh ke bawah jurang, sebetulnya, sebagian busurnya sudah terbenam di celah batu, kokoh tidak dapat dicabut lagi, punggung busurnya terbuat dari giok putih, tali busurnya sudah hilang, sehingga disebut busur panah yang cacad.

Kilat dan halilintar sudah berlalu, dari jurang yang sangat dalam timbul angin yang sangat dingin, dan mendadak suara rintik-rintik hujan turun dari langit yang lusuh!

Apakah langit turut bersedih atas sisa pertarung-an di puncak bukit tunggal ini? meneteskan air mata kasihan pada golok panjang yang putus, pedang yang patah dan busur panah yang cacad.

Apa betul? Atau bukan?



BAB 1



Gua iblis



Kilatan halilintar bagaikan pelangi, amarah geledek masih bergetar! Lembah iblis yang gelap gulita terletak di daerah Ban-li-san (Pegunungan sepuluh ribu) di Gui-lin selatan.

Begitu kilat halilintar berkelebat, sisa cahaya yang merah menyala terang, membuat lembah iblis terang benderang sekilas dan lembah yang sejak ribuan tahun, siang malam terkunci oleh kegelapan, baru tampak di mata langit.

Tampak dasar lembah berlumut hijau tanpa jalan, tidak terlihat batunya, di sampingnya berdiri bukit-bukit yang menjulang tinggi, kadang ada juga batu-batu yang mencolok keluar, bentuknya seperti binatang raksasa jaman purbakala, dengan mata yang mengerikan memandang ke bawah, membuat orang takut.

Saat kilatan sinar berkelebat, terlihat satu anak kecil sedang meloncat melewati batu yang terletak di atas dasar bukit, yang tingginya puluhan meter.

Anak itu! Loncatannya ringan dan lincah, tidak kalah dari loncatan monyet batu-batu yang bisa melon-cat sampai sejauh dua tombak.

Yang lebih aneh lagi, dia turun dari atas bukit tinggi yang banyak jumlahnya, bocah lelaki yang baru berumur sepuluh tahun, bagaimana bisa datang ke tempat itu? Untuk apa dia datang?

Saat kilatan sekali lagi datang di ikuti suara halilintar, geraknya seperti ular emas yang melesat ke bawah lembah, dengan cepat lewat di depan anak itu, biarpun sangat berani, dia terkejut juga atas kejadian itu.

Bocah itu belum minum dan makan sejak kemarin siang, tubuhnya gemetar tersiram air hujan, lapar dan dingin, membuat orang dewasa saja bisa patah semangat, apa lagi bocah cilik ini, dia hampir putus asa.

Dia melihat pemandangan sekeliling tempat, kesunyian dan kegelapan belum memperlihatkan muka asli lembah iblis yang mengerikan, demua menambah ketakutan bocah ini.

Mendadak, kilat dan halilintar datang lagi, mem-buat hati bocah yang kelaparan ini mendapat pukulan berat. Tetapi… sinar kilat dan suara halilintar ini seperti memberi rangsangan sejenak, membuat jiwa pemberani-nya pulih kembali.

Dengan semangat yang pulih, dia berpikir: pepatah mengatakan ayahnya adalah gambaran laki-laki sejati, dia adalah pemimpin dari empat pendekar wahid yang termasyur yang mendapat gelaran “Lui-to (Golok Halilintar), In-kiam (Pedang Awan), Giok-kiong (Busur Kumala) dan Kau-sat (Kail Pembunuh)”

Ayahku berjuluk Lui-to-cai-thian (Golok halilintar di langit)! Adalah seorang ayah yang gagah. mana boleh aku jadi seorang pengecut dan gampang putus asa.

Semangatnya yang teguh seperti membuat suatu keajaiban, begitu bocah itu memikirkan sebutan ayahnya, Lui Kie Lui-to-cai-thian, semangat juangnya langsung bangkit, hilang rasa takut terhadap situasi sekelilingnya yang gelap dan asing, juga melupakan perihnya perut lapar dan gemetaran untuk sementara, mengunakan ilmu meringankan tubuh yang diajarkan ayahnya sejak dia masih kanak-kanak, dia meloncat ke bawah, ke jurang iblis.

Ke bawah jurang iblis? Tentu saja, bocah kecil itu tidak tahu dia telah menuju tempat yang salah, dia tidak mengenal jalan, hanya menerjang tempat itu bagaikan orang buta.

Sekali lagi kilat dan halilintar berselingan keluar, hujan lebat tercurah dari langit, sekejap saja bajunya sudah basah semua, detik ini mana mungkin dia menper soalkan bajunya yang basah? Tetapi terpaan hujan lebat tersebut, membangkitkan rasa dingin dan lapar yang telah dilupakan tadi, dia jadi lebih tersiksa lagi.

Bocah itu terpaksa melanjutkan loncatan yang bagaikan angin melewati batu-batu yang terjal, sebentar saja sudah melesat sejauh sepuluh tombak.

Hujan lebat, batu licin, di tambah lapar, dingin, dan kelelahan, baru saja bocah itu meloncati batu terjal di seberang yang jaraknya satu tombak, mendadak kaki-nya terpeleset, dalam hatinya berseru, ‘Celaka’ belum kata-katanya juga diucapkan, tenaga dalamnya seperti terkuras habis, tanpa daya dia jatuh terpelanting menuju bawah jurang yang puluhan tombak dalamnya.

Anak kecil itu putus asa! Dia memejamkan kedua matanya, terasa suara angin yang menderu di pinggir kupingnya, kecepatan turunnya cepat, dalam hatinya dia merasa sedih, dan berkata:

”Ayah, sebetulnya A Bin tidak boleh kabur dari rumah………”

Belum berhenti berpikir, tubuhnya mendadak menimpa benda yang basah, empuk dan sangat kenyal, dia tidak merasa sakit, malah tubuhnya terpental balik ke udara dan jatuh lagi, berulang-ulang hingga empat kali, baru bisa terlentang diatasnya.

Dia terkejut bercampur senang, dengan teliti di rabanya benda yang menahan tubuhnya, dalam hatinya berkata, ‘beruntung selamat,’ ternyata dia selamat oleh lumut hijau yang tebalnya beberapa kaki, yang tumbuh sejak jaman purba kala tidak terkena sinar matahari, lumut itu berobah jadi empuk dan elastis, biarpun ada orang jatuh dari tempat tinggi hingga seratus tombak pun, tidak akan terluka.

Hujan makin deras, dibawah jurang terasa lebih deras lagi, A Bin merangkak bangun di bawah dasar jurang yang gelap, dia meraba-raba dinding jurang yang licin dan basah, dengan lunglai menginjak lumut yang empuk dan basah hingga sepuluh tombak jauhnya.

Mendadak tangannya meraba celah yang kosong, A Bin tidak waspada, keseimbangan tubuhnya tidak terkontrol, dan lumut yang dibawah kaki tidak bisa menahan kakinya, sehingga dia jatuh kedalam lubang itu, terdengar satu suara “bruk”, ternyata dia jatuh ke atas tanah yang keras dan kering.

Hujan yang deras menjadi berhenti karena terhalang lumut, sekarang A Bin merasa lebih leluasa, dia bersandar di tembok lubang itu yang ternyata menyerupai sebuah goa, setelah beristirahat sejenak, dia melihat gelapnya dalam goa hingga tidak kelihatan apa-apa, pelan-pelan dia teringat kehidupan masa lalunya ………..



0-0-0



Ketika A Bin baru dilahirkan tiga hari, ibunya meninggal karena sakit, dia di rawat oleh ayahnya dengan penuh kasih sayang, sejak kecil ayahnya telah memupuknya dasar latihan silat, dan oleh kakek dari ibunya yang terpelajar, dia diajarkan membaca dan menulis, hingga umur sepuluh tahun, dia telah menguasai seratus dua belas jurus ilmu ayahnya yang bernama Ilmu golok halilintar, ‘Lui-teng-kie-hoat’ (jurus Halilintar gemuruh)

Karena ayah A Bin, Lui Kie sangat sayang pada anaknya, maka dalam kehidupan sehari-harinya dia jarang keluar rumah, sepanjang tahun dia menemani anak tersayangnya, kecuali tiap tiga tahun sekali pada bulan 5 di saat hari Pecun (bacang) dia pergi ke Kwie-lam, mengikuti pertemuan Empat pendekar wahid yang diadakan tiga tahun sekali di Liong-bun-hong (Puncak-pintu langit) di Ban-li-san.

Pertemuan ini sudah berlangsung sekitar dua puluh tahunan, tiap tiga tahun menjelang malam hari raya Pe-cun, empat pendekar wahid di jaman itu akan datang ke Liong-bun-hong untuk mengadu kepandaian, yang menang akan memegang tanda “ Su-ciat-leng” (Empat perintah tertinggi) selama tiga tahun.

“Su-ciat-leng” hanya berupa Papan perintah yang berwarna hitam, perebutan Papan perintah ini telah berlangsung sepanjang dua puluh tahun, Papan perintah mempunyai kekuasaan yang sangat besar, bagi golongan hitam atau putih di dunia persilatan, biarpun tidak terikat oleh Papan perintah itu, tetapi tetap mengakui keberadaannya, karena orang yang meme-gang “Su-ciat-leng”, adalah orang yang paling hebat ilmu silatnya, siapa yang berani melawan Papan perintah itu, berarti menantang pada Empat pendekar wahid, tidak bisa di sangsikan lagi. Di dunia persilatan siapa yang mau bermusuhan dengan gabungan Empat pendekar wahid ini?

Tahun ini timbul pikiran A Bin untuk ikut ayahnya ke Liong-bun-hong menyaksikan pertemuan empat pendekar wahid. Ayahnya Lui-to-cai-thian tahu perjalanan kali ini tidak aman, maka dia tidak mengijin-kan A Bin ikut, tapi meski A Bin orangnya kecil, nyali-nya sangat besar, setelah ayahnya pergi, dia seorang diri meninggalkan rumahnya, dia telah mengelabui kakek-nya. Dengan menempuh ribuan li dari In-lam datang ke Liong-bun-hong di pengunungan itu! Sehari sebelumnya A Bin telah menemukan sebuah tempat tersembunyi di puncak itu dan mengintai situasinya, pada malam hari raya Pecun, di waktu bulan sabit menerangi Liong-bun-hong, disana telah penuh oleh orang-orang dari segala partai perguruan silat.

A Bin mengetahui aturan Empat pendekar wahid, dan sebetulnya kepandaian Empat pendekar wahid ini hampir seimbang semuanya, mereka sudah beberapa kali bertanding, tapi tidak ada pemenangnya, maka mereka berjanji tiap tiga tahun sekali mereka bertemu, masing-masing akan menggunakan tiga jurus ilmu terbarunya, dan akan dinilai dengan adil oleh empat orang itu, siapa yang lebih maju pesat dalam ilmunya, dialah yang berhak atas “Su-ciat-leng” selama tiga tahun.

Sepuluh tahun yang sudah lewat, In-kiam (Pedang Awan), Giok-kiong (Busur Kumala), Kau-sat (Kail penbunuh) telah menang satu kali, sedang Lui-to-cai-thian telah menang dua kali, Empat pendekar wahid telah berjanji, siapa saja yang lebih dulu bisa menang tiga kali, maka dia berhak memegang “Su-ciat-leng” selamanya, maka dengan rasa percaya diri yang sangat besar, A Bin ingin menyaksikan ayahnya menjadi pemilik benda itu selamanya.

Di tengah Liong-bun-hong (Puncak pintu langit) terdapat empat buah tempat duduk dari batu merupa-kan tempat penampilan Empat pendekar wahid.

Tepat jam dua belas malam, di Liong-bun-hong sunyi, tidak ada yang berbicara, semua orang yang datang dari segala perguruan silat masing-masing diam menunggu. A Bin membuka matanya lebih lebar, dalam hatinya dia sangat tegang.

Di bawah cahaya malam, satu sosok bayangan, melesat turun dari ketinggian, lajunya sangat cepat bagaikan bintang jatuh dari angkasa langsung jatuh tepat di batu tempat duduk di bagian selatan.

A Bin melihat keindahan orang itu melesat, dengan pikiran dan dalam hati berdebar dia tahu hanya ayahnya saja yang menguasai ilmu meringankan tubuh itu, hampir saja mulutnya kelepasan memanggil “Ayah telah datang”.

Kata yang ingin di ucapkan dimulut, mendadak berhenti karena kecewa. Pandangan matanya dengan cepat telah melihat orang yang datang tersebut di bahu tangannya tergantung sebilah kail besar yang meng-kilap, ternyata adalah Kail penbunuh Kau Bun-kek, salah satu dari anggota Empat pendekar wahid.

Empat pendekar wahid hanya datang satu orang, menbuat orang-orang partai yang ingin menonton tercengang dan gaduh, hati A Bin lebih beggolak bagaikan terbakar.

Kau Bun-kek menunggu sejenak, dan dari sarung tangan bajunya dia memperlihatkan sebuah benda yang warna hitam, itulah, “Su-ciat-leng” yang direbutnya dulu, bukanlah hal aneh sekarang berada ditangannya, tetapi yang baru pertama kali melihat benda yang melambangkan kekuasaan di dunia persilatan, tidak bisa menahan diri dan membuat suara gaduh.

Dengan kedua mata yang jernih Kau Bun-kek memandang sekeliling lapangan satu kali, dan dengan tertawa nyaring berkata:

”Pertemuan untuk memperebutkan Su-ciat-leng telah berjalan delapan belas tahun, waktunya jam dua belas malam tepat lewat, jika tidak datang tidak akan ditunggu lagi, sekarang aku akan memanggil tiga nama pendekar wahid yang belum datang sebanyak tiga kali, bila tidak menampakkan diri, berarti “Kau Bun-kek” ada kesempatan, memegang lagi Su-ciat-leng.”

Orang-orang di sekeliling yang datang dari segala jurusan mengharapkan pemimpin iblis yang suka melihat darah ini kalah dalam pertarungan kali ini, agar Su-ciat-leng itu jatuh ke tangan tiga pendekar wahid lain, tetapi sampai detik ini, Lui-to (Golok Halilintar), In-kiam (Pedang Awan), Giok-kiong (Busur kumala) masih belum datang.

“Siapa yang mau mencampuri urusan ini, katakan setuju?”

Betul saja, Kau Bun-kek berteriak keras:

”Saudara Busur Kumala (Giok-kiong), Giok Kang-tong!” dia berteriak tiga kali, tapi tidak ada orang yang menyahut, tersenyumlah Kau Bun-kek yang bermuka buas.

Dan dia berteriak lagi:

Judul judul karya Wolong Sheng

Judul judul karya Wolong Sheng (卧龙生) yang pernah cayhe terjemahkan sbb:
> 金剑雕翎 (Cing Jian Tiauw Ling) = Rahasia Kunci wasiat.
> 镖旗 (Biauw Ji) = Panji Naga sakti.
> 天香飙 (Dien Xiang Biauw) = Badai dunia persilatan.
> 素手劫 (Su So Cie) = Pembunuh Misterius.
> 春秋笔 (Juen Jui Pi) = Pena Wasiat.
> 三聖门 (San Sen Men) = Lembah tiga malaikat.
> 逰俠風流 (Yu Xia Feng Liu) = Bakti Pendekar.
> Rahasia kunci wasiat dalam buku aslinya hanya terdiri dari satu judul,
> tapi berhubung cerita ini kelewat panjang maka oleh Sdr. Swie San dari
> Sastra Kumala dibagi menjadi 4 bagian. Belakangan muncul lagi judul
> baru 岳小钗 (Yue Xiau Cha) atau Gak Siau-cha yang ceritanya tentang Siau
> Ling, hanya tidak jelas apakah judul ini merupakan kelanjutan dari
> Rahasia kunci wasiat, ataukah 金剑雕翎 dibagi jadi dua bagian.
> saat ini cayhe sedang persiapkan sebuah judul baru karya dari Wolong
> Sheng yang berjudul 天龙甲 (Dien Long Cia) = Tameng Naga Langit, moga
> dalam tahun ini atau paling lambat tahun depan bisa diterbitkan.
> Cerita Bangau Sakti telah dilakukan revisi dan kini terbit dengan
> judul 新仙鹤神针 (Xin Xien Ge Shen Cen) bangau sakti baru
> 金魔指 = Cincin Maut