Sabtu, 02 Januari 2010

Pedang Pembunuh Naga


Buku ini merupakan bagian terakhir dari Trilogi Rajawali, meski tokoh-tokoh utamanya tidak terhubung secara langsung dengan kedua bagian sebelumnya. Mengambil letar belakang cerita kurang lebih seratus tahun setelah kisah Kembalinya Sang Pendekar Rajawali. Bercerita mengenai 2 senjata terhebat di dunia : Pedang Langit dan Golok Naga , yang ditempa oleh Kwee Ceng dan Oey Yong dari pedang Xuan Tie Jian milik Yang Guo, sebelum kejatuhan kota Shiang Yang. Konon bila kedua senjata tersebut disatukan, kedua senjata tersebut dapat memberi pemiliknya kekuasaan yang tak tertandingi, sehingga dia dapat membebaskan China dari penjajahan Mongolia.
Tokoh utama kisah Pedang Langit dan Golok Naga ini adalah seorang anak laki-laki yatim piatu bernama Thio Bu Ki, yang memperoleh ilmu hebat dari Buku Sembilan Matahari dan buku Sembilan Gulungan Keramat. Dia menjadi ketua Sekte Ming, dan di akhir kisah, memungkinkan salah seorang anak buahnya, Cu Goan Ciang, untuk menjadi pendiri dinasti baru China, dinasti Ming. Sementara Thio Bu Ki pergi menyongsong matahari terbenam bersama Tio Beng seorang putri Mongol yang menjadi kekasihnya.

Sabtu, 26 Desember 2009

Hawa Pedang Membekukan Es

Cerita di mulai dari seorang pembunuh bayaran bernama Cia Kim-in mendapat tugas membunuh seluruh keluarga Suma Toh-wan yang terdiri 18 jiwa.

Sesudah berhasil malaksanakan tugasnya, di dalam sebuah perahu dia bertemu dengan seorang wanita penyanyi bernama Cu-lan, di loloh dengan arak dan rayuannya Cia Kim-in menjadi lupa diri dan tanpa sadar melakukan hubungan suami istri.

Ternyata Cu-lan adalah anak Tiauw Hui-seng ketua Tai-tiauw-po yang telah di bunuh oleh Cia Kim-in. Tiauw Cu-lan bersama suaminya Kau Ju-san menjebak dan ingin membunuh Cia Kim-in tapi tidak berhasil, malah Kau Ju-san akhirnya mati di bawah pedang Cia Kim-in..

Dua puluh tahun kemudian, muncul sorang pemuda bernama Tiauw Ci-yan, dia adalah anak hasil hubungan dari Tiauw Cu-lan dan Cia Kim-in, dia mendapat perintah rahasia dari gurunya untuk menyelidiki pembunuhan yang terjadi di Tai-tiauw-po dan membunuh Cia Kim-in.

Tiauw Ci-yan dari seorang pesilat muda yang berilmu biasa-biasa saja, dalam pengembaraannya, secara tidak terduga mendapat keberuntungan dari beberapa tokoh persilatan yang merupakan legenda kaum persilatan, akhirnya dia menjadi seorang pesilat yang sangat tinggi ilmunya.

Apakah dia akan berhasil membunuh Cia Kim-in?

Apakah dia akan berhasil menyelidiki rahasia pembunuhan di Tai-tiauw-po?

Dua Musuh Turunan

Rating : ****
Judul asli : Ping Zong Xia Ying Lu
Pengarang : Liang Yusheng (Nio Ie Seng, 1922- )
Penerbit : PT Wastu Lanas Grafika ― Surabaya
Penerjemah : Oey Kim Tiang (O.K.T., 1904-1995)
Cetak terbatas : 2005 ― 400 eksemplar
Jilid : 3 (tiga) jilid

" Siapakah yang menyanyikan lagu-lagu Souwtjioe dan Hangtjioe ?, Bunga teratai harum sepuluh lie, bunga koei dimusim Tjioe. Siapa tahu, rumput dan kayu dasarnya tidak berperasaan !, menyebabkan sungai Tiangkang jadi laksa'an tahun kedukaan "

Syair di atas adalah modifikasi dari karyanya penyair Tjia Tjie Houw, seorang penyair terkenal di jaman kerajaan Song menceritakan tentang kejadian di sungai Tiangkang, satu peristiwa yang menyimpan laksa'an kedukaan, dan selalu dikenang sampai beberapa generasi setelahnya.

Masih menggunakan kejadian di sungai Tiangkang itu sebagai benang merah-nya cerita, Peng Tjong Hiap Eng (PTHE) ber-setting kira kira 50 tahun-an setelah peristiwa di Hoan Kiam Kie Tjeng (HKKT).

Nasib Tan Hian Kie ( In Hian Kie ) yang tragis di akhir kisah HKKT membuat banyak pembaca menjadi penasaran dan berharap dapat mengetahui nasib selanjutnya dari pemuda kita ini. Tan Hian Kie sendiri di PTHE sudah menjelma menjadi tokoh tua persilatan yang dihormati berusia 70-80an tahun dengan gelar "Thian hee Tee it Kiam-kek" atau " Ahli Pedang Nomer Satu di Kolong Langit ", orang menyebut namanya dengan Hian Kie It Soe. Peristiwa dan pukulan batin berat yang dialaminya (gadis yang dicintainya adalah ternyata adik satu ayah, baca HKKT) tidak lagi disinggung-singgung .

Seperti yang dikisahkan di HKKT, Thio Hok Tjoe, anak dari Thio Soe Seng, berhasil diselamatkan dari pertempuran sungai Tiangkang dan dibawa menyingkir ke luar perbatasan Tionggoan , tepatnya , ke negeri Watzu, dan dengan mengandal kepada kecerdasannya, ia mempunyai penghidupan mapan di negeri Watzu, tidak hanya itu, anak keturunan dari Thio Soe Seng ini lantas bersahabat erat dengan raja Watzu selama bertahun tahun, sampai malah puteranya sendiri yang bernama Thio Tjong Tjioe, diangkat sebagai perdana mentri muda di negeri Watzu.

Kala itu negeri Watzu adalah satu dari suku bangsa Mongol yang paling kuat, kekuatan pasukan negeri Watzu ini perlahan tapi pasti menjadi semakin kuat mendekat ke daerah perbatasan Tionggoan dan mulai mengancam keberadaan negeri bangsa Han di seberang perbatasan.

Meng-khawatirkan hal itu, kaisar kerajaan Beng mengirim satu utusan ke Negeri Watzu dengan membawa misi perdamaian bertujuan untuk mencegah peperangan di antara kedua bangsa, adapun si pembawa misi perdamaian dari kerajaan Beng ini dipercayakan kepada satu pejabat setia kerajaan Beng, bernama In Tjeng.

Pada mulanya, In Tjeng si pembawa misi perdamaian dari kerajaan Beng disambut secara kenegaraan, mendadak muncul Thio Tjong Tjioe di tengah acara kenegaraan tersebut menghasut raja Watsu agar In Tjeng ditangkap dan dipenjarakan, raja Watzu termakan hasutan dan sejak saat itu In Tjeng kemudian ditahan di negeri Watzu.

Rasa benci Thio Tjong Tjioe , mengingat dendam leluhur terhadap Tjoe Goan Tjiang, pendiri kerajaan Beng dan semua keturunannya, membuat ia gelap mata dan melanggar aturan lazim kenegaraan dengan menahan In Tjeng yang bertindak sebagai utusan kerajaan Beng. Belum cukup dengan ditahan, In Tjeng dipaksa bekerja sebagai tukang angon kambing sambil menjalani masa tahanannya.

Sebagai pejabat tinggi negara dari kerajaan Beng, dipekerjakan sebagai tukang angon kambing di negeri musuh adalah satu hal yang menghina dan menyiksa batinnya, walau begitu In Tjeng tetap tabah menjalani dengan harapan Kaisar negeri Beng saat itu segera mengirimkan pasukan perang untuk menyelamatkannya.

Waktu berlalu tahun demi tahun dalam penantian, In Tjeng terpaksa harus menerima kenyataan bahwa tidak ada satupun dari Kerajaan Beng yang peduli dengan nasibnya, sementara dendam untuk membalas perlakuan Thio Tjong Tjioe semakin kuat mengakar.

Sepuluh tahun berlalu, tak diduga, muncul In Teng, puteranya. Ketika In Tjeng datang ke negri Watzu sepuluh tahun yang lalu itu, In Teng baru saja lulus menjadi sioetjay, menyadari bahwa ayahnya menjadi tahanan di negeri Watzu tanpa ada satupun di pihak pemerintahan yang peduli, In Teng berhenti mempelajari ilmu sastra untuk belajar silat sampai akhirnya diterima sebagai murid oleh Hian Kie It Soe, belum lulus perguruan, In Teng pergi ke negeri Watzu untuk menjemput ayahnya, apa daya dengan ilmu silat yang masih belum sempurna usaha In Teng menemui kegagalan, malah kemudian ia juga terpaksa menyamar dan tinggal di negri Watzu sambil terus berupaya mencari daya untuk menyelamatkan ayahnya.

Menuruti saran ayahnya, In Teng menikah dengan gadis setempat semata demi untuk meneruskan keturunan marga In, kemudian lahir In Tiong, puteranya yang pertama, yang setelah dewasa lantas saja dikirim ke Tionggoan kepada kakak seperguruannya, dengan harapan agar In Tiong dapat belajar silat untuk membalaskan sakit hati dendam keluarga. Sebelum dikirim ke Tionggoan, terlebih dulu In Tjeng membuat satu surat darah dari kulit kambing dan menjahitkannya ke baju In Tiong, surat itu isinya mengingatkan kepada semua anak keturunannya untuk membunuh semua anak keturunannya Thio Tjong Tjoe dan membakar semua tulang tulang dari semua keturunan Thio Tjong Tjoe menjadi abu tidak pandang laki atau perempuan, ... itulah sebuah surat darah yang sangat kejam.

Diceritakan karena suatu hal, masih di tanah pengasingan , In Tjeng terpaksa harus berpisah dengan anaknya. Sebelum berpisah, In Teng mengabari ayahnya bahwa dia sudah memperoleh lagi anak yang kedua, seorang anak perempuan yang diberi nama In Loei. Sampai tak terasa....., sepuluh tahun lagi berlalu.

Sepuluh tahun lagi berlalu, In Teng sebagai anak berbakti , tidak hanya diam tanpa berusaha. Kali ini , dua saudara seperguruannya dengan sekalian anak muridnya datang ke negeri Watzu, dilengkapi dengan rencana yang lebih matang, In Teng berhasil membebaskan ayahnya dan membawanya kabur pulang menuju Tionggoan.

Di dalam perjalanan melarikan diri pulang ke Tionggoan, In Teng bersama salah satu keponakan muridnya harus terpisah dari rombongan, dan dikabarkan gugur di tangan pasukan bangsa Watzu, tinggalah In Tjeng dan In Loei disertai oleh dua kakak seperguruan In Teng, meneruskan perjalanan melarikan diri menuju ke daerah perbatasan, Gan Boe Kwan.

Seperti mendapat firasat bahwa nasib buruk sedang menanti, In Tjeng menceritakan kisah hidupnya kepada In Loei, saat itu masih gadis cilik berusia tujuh tahun. Selesai bercerita, In Tjeng memberikan suratnya lagi yang kedua, sebuah surat wasiat darah yang mengharuskan In Loei membunuh semua anak keturunan Thio Tjong Tjioe dan membakar semua tulang keturunan Thio Tjong Tjioe menjadi abu...!!, sudah dirasakan oleh In Loei sejak pertama kali menerimanya, surat darah itu benar menyebabkan dia mengalami banyak penderitaan dalam kehidupan selanjutnya.

Benar firasat In Tjeng, baru saja masuk kedalam benteng perbatasan Gan Boe Kwan, terjadi peristiwa di luar dugaan, In Tjeng mati penasaran, masih untung In Loei bisa diselamatkan, sambil membawa surat darah dari kakeknya, In Loei diselamatkan dan dididik oleh kakak seperguruan ayahnya., Yap Eng-Eng – Hoei Thian Liong Lie.

Setelah peristiwa di benteng Gan Boe Kwan itu, maka kisah Peng Tjong Hiap Eng ini dimulai !.

Sepuluh tahun berlalu sejak peristiwa Gan Boe Kwan, In Loei turun gunung, dengan bekal ilmu silat yang dipelajari dari Yap Eng Eng (murid nomer empat dari Hian Kie It Soe), ia memulai petualangannya.

Perjalanan In Loei dalam dunia kang-ouw kemudian menyeretnya masuk ke dalam kelompok pergerakan pembela bangsa yang terombang ambing, antara membela negara Beng dari ancaman bangsa Mongol, atau mencoba menjatuhkan kerajaan, lantaran mereka juga sudah sangat muak dengan situasi pemerintahan negara Beng yang sangat lemah dipenuhi oleh para pembesar bejat dengan kaisar yang lemah pula.

Tapi dari semua peristiwa yang dialami In Loei di dunia kang-ouw, yang paling berat adalah yang menyangkut hubungan asmara. Nasib mempertemukan dengan seorang pemuda tampan misterius dengan ilmu silat cukup tinggi, setelah lama menjalin persahabatan, kedua nya lantas saling jatuh cinta, sampai belakangan diketahui kalau pemuda itu bernama Thio Tan Hong, yang tak lain adalah putera tunggal dari Thio Tjong Tjioe, musuh besar keluarganya !!.
Apakah sampai hati In Loei membunuh Thio Tan Hong dan membakar tulang tulangnya menjadi abu sesuai dengan wasiat dari kakeknya ?

Sementara Thio Tan Hong sendiri sebagai putera dari Thio Tjong Tjioe , sedari kecil sudah memutuskan untuk kembali ke Tionggoan, walau lahir dan dibesarkan di negeri Watzu, Tan Hong memiliki rasa patriotisme sebagai bangsa Han. Beranjak dewasa, Tan Hong mengembara ke Tionggoan, selain untuk mencari pengalaman, Tan Hong juga berencana untuk mencari harta peninggalan kakeknya yang ditimbun di suatu tempat sebagai bekal untuk meneruskan perjuangan melawan Tjoe Goan Tjiang, bagi anak keturunannya.

Sementara kerajaan Beng yang bobrok semakin terancam jatuh oleh serbuan dari bangsa Watzu, gantian Tan Hong sebagai seorang patriot mempunyai dilema, darah yang mengalir pada tubuhnya adalah darah bangsa Han, kecintaannya akan negeri Han , membuatnya bersemangat untuk membela bangsa Tionggoan, tapi kadang dia masih tidak sampai hati untuk melawan negeri Watzu , tempat dimana dia dilahirkan dan dibesarkan, bahkan ayahnya sendiri menjadi pejabat yang dihormati di negeri Watzu. Apakah dia sampai hati untuk melawan kawan dan saudara-saudaranya sendiri apabila dia memutuskan untuk membela kerajaan Beng ?, Sementara itu sudah jelas dari silsilahnya kalau Tjoe Goan Tjiang si pendiri kerajaan Beng, adalah musuh besar keluarga, bagaimana mungkin ia kemudian membela kerajaan Beng dari serbuan bangsa Watzu, karna dengan demikian, jelas dia akan menjadi seorang pendosa keluarga dan durhaka ?, nasib Tan Hong memang sungguh pelik, belum lagi ditambah hal yang menyangkut dendam turunan dari keluarga In terhadap ayahnya, gadis yang dicintanya diharuskan untuk membunuhnya. Mengalami depresi , Tan Hong sempat kemudian menjadi gila dan tidak waras.

ooo000ooo

Liang YuSheng dalam membuat cerita ini terasa benar menumpahkan semua kreativitasnya. , muncul pertama kali di koran Hongkong Dagong Bao (Taykong Poo) pada medio 1 January tahun 1959, PTHE tidak membutuhkan waktu lama untuk memikat para pembaca koran Dagong Bao sampai tamat pada tgl. 18 Desember 1960. Yang unik, belum lagi PTHE ini tamat , Liang Yusheng sudah memunculkan lagi karyanya yang lain secara bersambung, yaitu Hoan Kiam Kie Tjeng ( HKKT ) di koran Xianggang Shangbao (Hiangkang Siangpoo) pada bulan November 1959, HKKT ini ditulis dan dimaksudkan sebagai cerita pendahuluan (prequel) dari PTHE.

Menulis dua cerita berbeda hampir secara bersamaan dimana salah satu ceritanya adalah pre-quel dari cerita satunya, tentu membutuhkan ketelitian yang luar biasa agar cerita tetap selaras antara prequel dan sequelnya. Dalam hal ini Liang Yusheng membuktikan kehebatannya sebagai penulis, tidak terjadi kesimpang siuran sejarah yang fatal antara HKKT dan PTHE.

Liang YuSheng juga sangat pandai sekali merangkai cerita, PTHE berjalan mengalir lancar membuat pembaca tidak bisa berhenti membaca sebelum tamat, dalam beberapa bagian cerita muncul sub-sub cerita dengan tokoh utama lain sehingga cerita tidak melulu bercerita tentang In Loei dan Thio Tan Hong, walau dengan adanya sub-sub cerita ini durasi cerita menjadi lebih lama, tapi sama sekali tidak sampai membuat pembaca menjadi lelah mengikutinya, karena sub-sub cerita yang muncul akibat dari pengembangan cerita itu masih berada dalam bingkai utama keseluruhan cerita. Sebaliknya, sub-sub cerita itu malah membuat PTHE menjadi lebih asyik dan seru untuk diikuti.

Dimasukkannya beberapa kejadian sejarah hikayat rakyat (folklore) ke dalam cerita ini juga menjadikan PTHE lebih menarik untuk dibaca, diantaranya dikisahkan Thio Tan Hong dan In Loei terjebak pada peristiwa tertawannya kaisar Kie Tin dari kerajaan Beng oleh pasukan bangsa Watzu dalam satu pertempuran. Kaisar Kie Tin dari kerajaan Beng, dikhianati oleh orang kepercayaannya sehingga harus rela ditawan oleh pasukan bangsa Watzu, tidak seperti para pengawalnya yang rela mati daripada tunduk ditawan, kaisar Kie Tien yang pada dasarnya dikisahkan sebagai penakut, terlalu sayang jiwa sehingga rela dan mandah ditawan, sementara di lain tempat para pengawal setia kaisar berperang habis-habisan sampai mati, " Raja terhina, Mentri binasa ". Kejadian yang selalu dikenang sebagai kejadian memalukan dalam hikayat kerajaan Beng ini dikenal dengan nama " Peristiwa Touw-Bok ".

Berkaitan dengan para tokoh yang muncul di HKKT, ikut diceritakan mengenai perselisihan lanjutan yang timbul antara Siangkoan Thian-Ya , Siauw Oen Lan dan Tan Hian Kie yang menurun kepada semua anak murid dari ketiga orang tersebut di PTHE. Memang sedikit mengherankan apabila ketiga orang ini masih saja berselisih setelah lewat 50 tahun, malah diceritakan kalau Siangkoan Thian-Ya jadi dikenal sebagai iblis nomor satu, tidak jelas putih atau hitam nya, berebut predikat gelar pendekar nomer satu dengan Tan Hian Kie, padahal di HKKT, perselisihan antara mereka dengan jelas telah selesai secara baik baik, terutama hal yang menyangkut dirinya Siauw Oen Lan. Jadi agak mengherankan dan terasa mubadzir apabila Liang YuSheng masih menampilkan ketiga orang ini bermusuhan dengan alasan yang sebenarnya telah selesai di HKKT Tanpa harus menampilkan ketiga tokoh itu, hubungan prequel dan sequel antara HKKT dan PTHE sudah terasa dengan benang merah peristiwa di sungai Tiangkang dan keberadaan dari keturunan para pengawal setia Thio Soe Seng di HKKT.

Berkembangnya konflik dan cerita yang berkepanjangan, walaupun masih seru untuk diikuti , terasa oleh penulis kalau Liang YuSheng mengalami kesulitan untuk mendapatkan ending yang memuaskan, konflik dan dilema yang menimpa In Loei maupun Thio Tan Hong memang tidaklah mudah untuk diselesaikan, .....seakan terjebak oleh konflik yang diciptakannya sendiri, Liang YuSheng kemudian memilih ending yang paling mudah, yaitu ...kematian.

Memang hanya kematian satu satunya jalan keluar guna mengakhiri dendam dunia antara keluarga In dan Thio, hanya dengan kematian orang akan menjadi sadar akan pentingnya kebahagiaan di dunia dan melupakan dendam.

Di Indonesia, pertama kali PTHE diterjemahkan oleh Oey Kiam Tiang (OKT alm.), dan diterbitkan oleh penerbit Keng Po, Jakarta tahun 1959, 11 jilid. OKT menerjemahkan PTHE secara indah dengan gaya bahasa yang sudah menjadi ciri khas beliau. Tidak ketinggalan puisi puisi yang bertebaran sepanjang cerita ini tidak luput di terjemahkan oleh beliau secara indah tanpa harus mereduksi maknanya, sehingga menambah unsur romantisme cerita menjadi makin kental. Di dalam cerita, Tan Hong memang seorang ahli sastra dan terpelajar, selain itu perasaanya halus dan perasa, dalam segala situasi Tan Hong mengungkapkan perasaannya melalui puisi, jadi tidak heran kalau kemudian bertebaran puisi-puisi indah sepanjang cerita. Belum lagi, OKT memberi judul " Dua Musuh Turunan..... ", judul yang indah dan sangat sesuai sekali dengan isi ceritanya !!.

Tidak kalah dengan sambutan di negeri asalnya, di dalam negeri sendiri nampaknya sambutan para peminat cerita silat terhadap PTHE boleh dibilang juga cukup baik. Terbukti setelah diterbitkan Keng Po, muncul di tahun yang sama PTHE hasil terjemahan dari Chin Yen, diterbitkan oleh penerbit Kisah Silat – Jakarta. Kemudian di tahun 1980, dari Semarang muncul Gan KL (alm) yang juga menerjemahkan PTHE ini dengan judul " Pahala dan Murka – 28 jilid " diterbitkan oleh Panca Satya. Masih belum cukup, di tahun 1996, sastrawan Ajip Rosidi , ahli bahasa yang juga seorang pembaca cersil, meng-edit " Dua Musuh Turunan.... " terjemahan OKT yang masih dalam ejaan lama, ke dalam bahasa Indonesia dan menerbitkannya kembali dengan judul " Dua Musuh Turunan " oleh penerbit Pustaka Jaya. Walau terbit tidak tamat , hanya tiga jilid, kenyataan ini menggambarkan dengan jelas betapa populernya PTHE sehingga sampai tahun 1996 pun masih saja dicoba untuk diterbitkan lagi. Kemudian terakhir di tahun 2005 ini, atas inisiatif Masyarakat Tjerita Silat, naskah " Dua Musuh Turunan..... " milik OKT , diterbitkan kembali.

Sebuah karya atau cerita yang bagus, tak akan lekang dimakan jaman, sampai kapanpun orang akan selalu membaca dan mengingatnya, dan untuk hal ini kita patut berterima kasih kepada penerbit yang telah menghadirkan kembali satu cerita dan karya indah ini ke dalam koleksi pustaka kita.

Asmara Pedang dan Golok

Hoyan Tiang-souw, seorang pemuda kasar, tinggi besar, kalau berbicara suaranya seperti geledek menggelegar, dia mengembara dari utara ke selatan (Kang-lam), dengan sebilah Mo-to (Golok setan) dia telah membunuh banyak sekali ahli-ahli golok. setiap bertarung cukup satu jurus saja maka tubuh lawannya akan terbelah menjadi dua bagian.

Li Poh-hoan seorang pemuda tampan, cerdik, berilmu tinggi, keturunan seorang jago yang sangat terkenal di dunia persilatan, dia adalah Pangcu Thi-pian-tan (Perkumpulan pikulan besi), dengan sebilah pedang dia belum pernah mendapat tandingan, dia berambisi ingin menguasai dunia persilatan.

Cui Lian-hoa seorang wanita lemah lembut dengan kecantikannya yang tiada tara, telah membuat siapapun yang melihat akan jatuh cinta dan ingin memilikinya. Dia mempunyai saudara kembar yang bernama,

Cui Lian-gwat, kecantikannya tidak kalah oleh kakaknya, dia belajar ilmu sesat dari aliran barat, sehingga prilakunya menjadi sesat dan selalu ingin melakukan pembunuhan.

Karena kecantikan dua saudara kembar itu maka terjadi kemelut, setiap orang baik tua maupun muda, penjahat, pembunuh sampai mempertaruhkan nyawanya ingin memiliki wanita yang kecantikannya tiada tara ini.

Hoyan Tiang-souw dan Li Poh-hoan pun terlibat percintaan yang unik ini, sehingga dua jago muda yang tiada lawan ini menjadi bermusuhan dan melakukan pertarungan mengadu jiwa

Siapa yang akan berhasil mendapatkan wanita cantik ini..?

Yang menarik dari buku ini adalah selain isi ceritanya juga penggunaan bahasa yang puitis hingga membacanya harus perlahan dan memerlukan pemahaman yang dalam, gaya bertarungnya pun tidak banyak bervariasi, begitu golok menyerang maka kepala / tubuh lawan segera terpotong jadi dua.

Mungkin gaya bahasa dan gaya bertarungnya mirip dengan Khu-lung.?

Judul : ASMARA PEDANG dan GOLOK

Karangan : Suma Leng

Minggu, 20 September 2009

Pisau Kekasih

Lim Leng-ji telah datang

Jika kau belum pernah bertemu dengan Lim Leng-ji, maka kau hanya orang biasa seperti kebanyakan orang.

Jika kau melewatkan kesempatan baik bertemu dengan Lim Leng-ji, maka kau adalah orang yang sangat bodoh.

Jika kau bertemu dengan Lim Leng-ji dan tidak merasa silau atau takjub, mungkin kau seorang yang buta atau idiot.

Jika kau bertemu dengannya dan langsung berpikiran kotor, tidak bisa berkata-kata, kau pastilah seekor babi.

Orang-orang berkata inilah cermin diri Lim Leng-ji.

Jika kau bisa bertemu dan duduk berdamping-an dengan Lim Leng-ji, kau pasti akan segera terpikirkan, berapa besarkah uang yang harus dikeluarkan hanya untuk bisa duduk sambil berbicara dengannya?

Kau pasti akan lebih berpikir barang berharga yang paling berharga bagaimana, agar bisa membuat kita menjadi tamu istimewanya?

Benarkah Lim Leng-ji adalah wanita yang seperti itu? Tentu saja semua ini harus melalui penyelidikan terlebih dahulu, baru kita bisa tahu.

Kereta Lim Leng-ji masih belum memasuki jalan utama di kota Koh.

Tapi orang yang lalu lalang di jalan utama kota itu sudah mengumumkan bahwa Lim Leng-ji sudah datang. Orang yang masih lalu lalang di sepanjang jalan utama kota itu pun langsung memasuki toko-toko dan rumah makan yang berada di dua belah sisi sepanjang jalan itu, dan para pedagang kaki lima pun memindah-kan barang dagangannya ke sudut-sudut jalan.

Jalan utama kota itu langsung menjadi sepi.

Tidak ada panji dan payung kipas juga tidak ada suara pukulan gong yang mengiringi, padahal dalam satu hari penuh, malam hari adalah waktu yang paling ramai dan penuh orang tetapi jalanan itu sekarang malah sangat sepi.

Bagaikan bak cat yang dipenuhi warna, kedua sisi kereta itu bertatahkan giok dan emas serta ditarik oleh sepasang kuda, kereta itu memasuki jalan utama tersebut.

Suara derit kereta kuda telah menenggelamkan bunyi suara yang lainnya.

Saat itu di setiap sudut jalan hanyalah terlihat kepala-kepala orang yang terjulur keluar melalui pintu dan jendela toko-toko yang ada di sekitar jalan itu, mengikuti gerakan kereta kuda yang datang.

Namaku Wie Kai

Seorang laki-laki yang kira-kira berumur 27-28 tahunan, berpakaian seperti umunnya tapi memiliki senyum yang sangat menawan hati orang di sekitarnya.

Anak muda ini sangatlah menarik perhatian orang, karena dia sedang berdiri di tengah jalan utama itu dan menghadang kereta kuda. Parasnya serta sikap-nya sangat menarik perhatian orang.

Entah benar-benar kurang ajar atau meng-hina.

Kata orang, cara mencari perhatian adalah melakukan sesuatu yang hendak dilakukan orang lain tapi belum sempat dilakukan, atau melakukan sesuatu yang orang lain tidak berani melakukannya.

Tapi jika kau melakukan sesuatu yang tidak berani dilakukan orang lain, justru pada akhirnya akan menimbulkan rasa iri hati atau cemburu.

Hanya saja melihat kesantaian, kekurang-ajaran, serta senyum menawan anak muda ini, orang-orang yang sedang naik darah pun pasti akan segera reda marahnya.

Siapakah gerangan anak muda ini?

Pakaiannya tidak gemerlapan, sikapnya juga tidak tampak serius, malahan cenderung bersifat berandalan.

Tapi hanya sedikit orang yang tahu apakah harus menganggukkan kepala terhadapnya atau malah menggelengkan kepala.

Mungkin kemunculannya bisa dipandang seba-gai hasil keberuntungan yang tidak terduga.

Kejahatan manusia justru biasanya dilandasi oleh alasan yang lemah ini.

Sekarang anak muda ini malah memusatkan pandangannya.

Kereta kuda itu memasuki kota dengan perlahan lahan.

Anak muda itu sedang berdiri menghalangi jalan. Jika kereta itu adalah kereta yang membawa raja, maka perbuatan ini bisa disebut dengan pemberontak.

Tiba-tiba dia mengangkat tangannya, berseru:

"Oi! Nona Lim Leng-ji yang ada di dalam kereta!"

Sikapnya ini bukan hanya kasar, tetapi juga gegabah dan kekanak-kanakan.

Tapi saat itu tidak ada seorang pun yang mau menasehatinya, malah berharap kesalahan yang dilaku-kannya mendapat reaksi.

Tentu saja inipun yang menjadi isi hati setiap orang.

Laki-laki yang menjadi kusir kereta itu tampak sangat kuat, kelihatannya dia merangkap sebagai pengawalnya juga.

Sekali menghela cemeti, di udara langsung keluar percikan api dari lecutan cemeti itu dan kemudian menyerang anak muda itu.

Paling tidak ada sebagian orang pasti bertanya-tanya apakah serangan itu bisa mengenai anak muda itu atau tidak.

Di dunia ini kebanyakan orang pasti berpikiran seperti itu, bahkan jika anak muda itu berpikiran rasional, pastilah akan berpikiran seperti itu juga.

Anak muda itu mengeluarkan tangannya, dengan tenang menahan serangan cemeti yang membabi buta.

Hanya ada beberapa orang yang benar-benar bisa melakukan perbuatan itu dengan baik.

Pengemudi kereta yang keretanya sedang menghadap kearah matahari terbenam itu sangat marah sampai muka dan telinganya merah, karena serangan cemetinya bisa ditahan.

Sebelah tangan anak muda itu mencengkram cemeti itu dan mengangkat tangan yang satunya lagi sambil berseru:

"Lim Leng-ji Siocia yang ada di dalam kereta, ijinkan aku melihatmu?"

Tidak akan ada seorang pun yang percaya bahwa tirai kereta itu akan terbuka.

Sebab di dalam kereta itu memang ada Lim Leng-ji.

Walaupun orang yang berpikiran seperti itu jumlahnya sangat banyak, tetapi tetap saja di antara orang yang berada dipinggir sepanjang jalan itu, ada yang mendekati depan kereta, mereka tidak mau melewatkan peristiwa yang langka yaitu terbukanya tirai kereta itu.

Prilaku seperti ini dengan anggapan bahwa tirai kereta itu tidak mungkin akan terbuka, benar-benar sangat bertolak belakang.

Kombinasi yang bertentangan.

Itulah kehidupan manusia.

Ini pastilah hanya kebetulan, tirai kereta itu perlahan-lahan terbuka.

Pakaian yang berwarna putih yang membung-kus kulit bagaikan salju.

Benar-benar tidak akan ada orang yang merasa bahwa ada sesuatu yang berbeda pada dirinya dibandingkan dengan wanita lainnya.

Tetapi pada saat yang bersamaan tidak ada satu orang pun yang pernah menjumpai wanita yang secantik dirinya.

Lim Leng-ji benar-benar Lim Leng-ji.

Ada banyak wanita di dunia ini yang bisa menggetarkan hati orang, tetapi mereka bukanlah Lim Leng-ji.

Di dunia ini ada dua jenis wanita yang tidak mungkin menerima kecemburuan yang sama, jika bukan wanita yang sangat jelek pastilah wanita sangat cantik.

Dandanan yang menarik saja tidak cukup untuk melukiskan tentang dirinya.

Mereka saling memandang satu sama lainnya.

Dia mungkin satu-satunya pria yang tidak memiliki rasa rendah diri, tetapi jantungnya tetap saja berdegup.

Dia percaya jika suara detak jantung dari orang-orang yang berada di keempat penjuru kereta itu jika disatukan, suaranya pasti lebih keras dibandingkan dengan tambur besar yang dipukul sekuat tenaga.

Pandangan matanya sangat tajam juga sangat serakah, benar-benar salah satu jenis pandangan mata pria yang paling dibencinya. Tapi tiba-tiba dari matanya muncul pandangan yang berbinar-binar.

Anak muda itu menggosok-gosok ujung hidung-nya sambil berkata:

"Namaku Wie Kai!"

Dia tidak bisa mengerti makna kata-kata yang terkandung dalam pandangan mata Lim Leng-ji, tetapi sepertinya ada perasaan yang saling mengenal satu dengan lainnya. Jika tidak, bagaimana mungkin mereka bisa saling memandang seperti itu?

Mereka seperti orang yang pernah bertemu di dalam mimpi saja.

Kusir kereta yang bak pengawal itu tiba-tiba saja muncul di samping anak muda itu.

Walaupun orang ini sekujur tubuhnya dibalut oleh busana yang indah, tetapi orang yang bermata tajam dengan sekali lihat pasti langsung tahu kalau dia adalah orang yang hanya patuh akan perintah.

Kepribadian yang seperti itu sudah tidak bisa dibuang juga tidak bisa dirubah.

Orang itu berkata kepada Wie Kai:

"Namamu Wie Kai, betul tidak?"

Wie Kai menjawab sambil tertawa:

"Aku baru saja mengatakan pada nona Lim Leng-ji."

Kata kusir itu:

"Di Ta-ih-tu-hong (wisma judi Ta-ih), kau telah berhutang pada tuan mudaku sebanyak 320 tail."

"Tuan mudamu?" Tanya Wie Kai dengan tanpa menghilangkan senyum di mukanya.

Kusir itu membalikkan tubuhnya dan di atas undak-undakan batu di depan sebuah kedai arak berdiri seorang yang berpakaian indah dan menonjol.

Penampilannya menunjukkan bahwa dia orang yang bermartabat dan air mukanya serius sehingga orang mana pun, hanya dengan melihat sekilas pasti langsung percaya bahwa dia adalah tuan muda yang berasal dari keluarga kaya atau pemuda dari keluarga yang terhormat.

Hanya saja anak muda ini dengan Wie Kai adalah dua jenis orang yang berbeda.

Wie Kai orangnya tampan, pembawaannya santai, bebas, ada sedikit sifat berandalan, tetapi malah justru menarik perhatian orang terutama di saat dia tertawa.

Hanya dengan melihat tawanya, biarpun makan malam tidak ada semangkuk nasi, juga akan terasa seperti berada di langit ke sembilan.

Wie Kai menoleh dan memandang anak muda yang bermuka serius itu, lalu tiba-tiba berkata:

"Benar-benar orang yang berpendidikan. "

Akulah Loo Cong

Anak muda yang bermuka serius itu maju ke depan seraya menyatukan kedua tangan di depan dadanya berkata:

"Aku she Loo dan namaku adalah Cong. Budakku bersikap tidak sopan, harap Wie-heng jangan masukkan ke dalam hati."

Wie Kai berkata:

"Jika ingin menagih hutang, mengapa anda harus bersikap misterius seperti itu?"

Uang sebanyak 320 tail bukanlah jumlah yang sedikit, orang yang bermata tajam pasti bisa melihat bahwa di tubuh Wie Kai tidak akan ada uang sebesar 320 tail.

Saat itu Wie Kai membuka kepalan tangannya dan kusir kereta menarik kembali cemeti yang terjulur tadi.

Walaupun sedang membicarakan masalah 'pengembalian hutang', tapi di bawah tatapan banyak orang dia sama sekali tidak mengingkarinya.

Padahal ada sebagian orang sedang men-cemaskannya, juga ada sebagian lagi yang berharap melihat gurauannya.

Pelayan yang jahat ini sengaja membuatnya malu di depan Lim Leng-ji, tapi majikannya sama sekali tidak peduli.

Kejadian yang memalukan, kali ini sudah tidak bisa dihindari lagi.

Loo Cong berkata lagi:

"Harap kata-katanya jangan Wie-heng masukan ke dalam hati!"

Hati Wie Kai terasa sangat cemas, tapi dia tetap tenang.

Lagipula tirai kereta sudah diturunkan kembali, tetapi dia percaya kalau Lim Leng-ji yang berada di balik tirai kereta itu tetap memperhatikan dirinya.

Wie Kai adalah orang yang sangat pintar dan cekatan, karena itu dia bisa setiap saat mengeluarkan tawa yang menggetarkan hati setiap orang.

Pandangan mata Wie Kai menyapu ke empat penjuru, lalu tiba-tiba pandangan matanya jatuh pada seorang gadis yang berdandan sederhana dan memiliki sepasang mata yang besar, yang berjarak 5-7 langkah darinya.

Saat itu juga dia merasa bahwa hal yang menjengkelkan seperti ini sudah berkurang setengah-nya.

Tawanya malah semakin gembira dan semakin membingungkan orang.

Dia melambaikan tangannya kepada gadis itu.

Gadis itu layak kenalannya saja atau pun anggota keluarganya.

Tapi. mengapa gadis yang bermata besar itu justru malah datang menghampiri?

Padahal mereka berdua sama sekali tidak saling mengenal, paling tidak belum pernah sekali pun bertegur sapa.

Lalu mengapa setelah dia terperanjat malah datang menghampirinya.

Sesudah datang mendekat, barulah gadis itu sadar dan bertanya kepada diri sendiri. Mengapa aku mau datang mendekatinya? Benar-benar tidak bisa dimengerti!

Wie Kai melambai-lambaikan tangan dengan muka yang senang berkata:

"Tolong berikan uangnya pada Loo-heng ini!"

"Aku?" Gadis yang bermata besar itu bertanya dengan suara kecil.

Wie Kai mengangguk-anggukka n kepalanya dan wajahnya tidak berubah sedikit pun. Memperlihat- kan uang sebesar 320 tail, berkeping-keping uang saja, kenapa harus sampai ribut-ribut segala?

Pembawaan gadis bermata besar itu amat sangat tenang, bagaimana pun juga mereka adalah manusia yang sudah berpengalaman dalam kehidupan ini.

Dari ke empat penjuru jalan tidak terdapat banyak orang yang mengamati mereka berdua.

Jika mereka berdua hendak adu keras kepala, mereka benar-benar jagoan.

Gadis bermata besar itu berkata dengan suara kecil:

"Walaupun aku bisa menolongmu, tapi dengan sikapmu yang seperti ini, mengapa aku harus menolongmu?"

Suaranya sangatlah kecil sehingga hanya mereka berdua saja yang bisa mendengarnya.

Wie Kai mengangkat tangannya sambil berkata dengan suara kecil:

"Karena namamu Hong Ku!"

"Kalau aku Hong Ku, memangnya kenapa?"

"Sebab Hong Ku adalah Sam-jiu-Koan- in (Dewi Kwan-in Bertangan Tiga)."

"Kalau Sam-jiu-Koan- in, memangnya kenapa? Apa urusannya denganmu?"

Walaupun di mulutnya mengatakan 'apa urusan mu', tetapi raut wajahnya tersenyum.

Meski Wie Kai sedang memohon uluran tangan orang, tetapi raut wajahnya sama sekali tidak berubah dan tetap saja tersenyum, seperti layaknya seorang pelayan perempuan yang bersedia melakukan apa pun demi kepentingan majikannya.

"Walaupun memang bukan urusanku, hanya saja tadi kau melakukan beberapa 'transaksi jual beli', aku adalah satu-satunya saksi mata," Kata Wie Kai.

Raut wajah Hong Ku sedikit berubah.

"Kau?"

Wie Kai berkata sambil berbisik:

"Di tubuhmu ada sebuah kalung emas, selembar kertas uang (cek), dan sebuah tutup kepala dari batu giok yang sangat mahal."

Raut wajah Hong Ku langsung berubah.

"Kau!"

"Setiap kali melakukan aksinya selalu bersih dan rapi, nama Sam-jiu-Koan- in benar-benar memiliki prestasi yang patut dibanggakan! "

Hong Ku tiba-tiba mengeluarkan suara tawa yang manis, seperti layaknya pelayan yang dipuji oleh majikannya, katanya:

"Siau-kai, kau benar-benar hebat! Aku sungguh mengaku kalah olehmu!"

Wie Kai menundukan kepalanya, berkata:

"Terima kasih! Aku akan segera mengembali-kannya. "

Hong Ku segera mengeluarkan selembar cek dan memberikannya kepada Loo Cong sambil berkata:

"Di jalan menagih hutang, ternyata di dalam keluarga terhormat juga diajarkan cara menagih hutang seperti ini."

dst...